Tuesday, April 30, 2013

KUMPULAN CONTOH MAKALAH TENTANG PTK



BAB I

                                                                    PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam menciptakan segala sesuatu, Allah SWT selalu menerangkan dengan rinci mengapa sesuatu tersebut diciptakan. Misalnya kita sebagai manusia, makhluk yang paling mulia di antara sekian makhluk-Nya, diutus ke dunia sebagai khalifah pemelihara jagad raya ini. Hal yang demikian tentunya ada hikmah/rahasia tersendiri dibalik penciptaan kita para manusia. Memasuki ranah syariah, sebagai contoh lain, adalah satu item yang dijadikan alternatif oleh kita sebagai pengganti wudlu yang merupakan syarat sahnya sholat yakni tayamum. Dalam tayamum ini pun tersimpan suatu hikmah tertentu yang dirasa perlu diketahui oleh kita agar nantinya dalam pendekatan diri kepada-Nya tidak terdapat ganjalan yang memungkinkan kita “lari” dari syariah Islam.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian, syarat dan rukun dari tayamum ?

2. Apakah hikmah dibalik tayamum ?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian, Syarat dan Rukun Tayamum

Kata tayamum menurut bahasa sama dengan al-qashdu yang berarti menuju, menyengaja. Menurut pengertian syara’ tayamum adalah menyengaja (menggunakan) tanah untuk menyapu dua tangan dan wajah dengan niat agar dapat mengerjakan shalat dan sepertinya. Tayamum adalah pengganti wudlu atau mandi, sebagai rukhsah (keringanan) untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa halangan (uzur) yaitu karena sakit, karena dalam perjalanan, dan karena tidak adanya air. Pensyari’atan tayamum ini berdasarkan firman Allah dalam Q. S. Al-Nisa’ ayat 43, sebagai berikut:
Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun


Dalam hal ini terdapat bebebrapa syarat dari tayamum yaitu: pertama, sudah masuk waktu shalat maksudnya tayamum disyariai’atkan untuk orang yang terpaksa. Sebelum masuk waktu shalat ia belum terpaksa, sebab shalat belum waajib atasnya ketika itu. Kedua, sudah diusahakan mencari air tetapi tidak dapat, sedangkan waktu shalat sudah masuk. Kita disuruh bertayamum bila tidak ada air setelah dicari dan yakin tidak ada, kecuali orang sakit yang tidak diperbolehkan memakai air, maka tidak menjadi syarat baginya. Ketiga, dengan tanah yang suci dan berdebu. Dan yang keempat, menghilangkan najis maksudnya sebelum bertayamum itu hendaknya harus bersih dari najis.

Adapun rukun-rukun tayamum ialah niat, mengusap wajah (muka) dengan tanah (debu), mengusap kedua tangan sampai ke siku dengan tanah (debu) dan menertibkan rukun-rukun tersebut. Sedangkan hal-hal yang membatalkan tayamum yaitu setiap perkara yang membatalkan wudlu dan ketika adanya air. Adanya air disini adalah ketika mendaptkan air sebelum shalat, maka batallah tayamum bagi orang yang melakukan tayamum tersebut karena ketiadaan air bukan karena sakit.


B. Hikmah Tayamum

Daintara hal-hal yang dituduh menyelisihi akal adalah masalah tayamum. Maka ada tanggapan bahwa tayamum tidak dapat diterima oleh akal apabila ditinjau dari dua segi, yaitu: pertama, tanah atau debu adalah sesuatu yang kotor, sehingga tidak dapat menghilangkan daki maupun kotoran-kotoran lainnya. Demikian pula tidak dapat membersihkan pakaian. Kedua, tayamum hanya disyari’atkan pada dua anggota badan (wudlu), dan ini tidak sesuai dengan akal logika yang sehat.


Benar jika syari’at tayamum itu memang tidak sesuai dengan akal yang picik. Akan tetapi, ia sangat selaras dengan akal yang sehat. Karena sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan air sebagai su,ber utama kehidupan, sementara manusia diciptakan dati tanah. Tubuh kita tersiri dari dua unsur tersebut, yakni air dan tanah. Dan telah pula dijadikan dari dua unsur itu makanan bagi kita. Lalu keduanya dijadikan alat bagi kita untuk bersuci dan beribadah. Tanah adalah materi asal kejadian manusia dan air adalah sumber kehidupan bagi segal sesuatu. Lalu Allah SWT menyusun alam ini dan kedua unsur itu sebagai sumber utamanya.


Pada dasarnya, bahan yang dipakai untuk membersihkan sesuatu dari kotoran dari situasi dan kondisi yang biasa adalah air. Tidak diperkenankan untuk tidak mempergunakan air sebagai bahan pembersih, kecuali pada saat itu air tidak ada, atau karena adanya halangan seperti sakit serta sebab-sebab yang lain (yang dapat dibenarkan oleh syara’). Pada saat kondisi tidak memungkinkan untuk mempergunakan air seperti itu, maka mempergunakan tanah sebagai pengganti air adalah jauh lebih utama dibandingkan dengan yang lain. Hal ini karena tanah adalah saudara kandung air. Meskipun pada lahirnya tanah (debu) nampak kotor, namun ia dapat mensucikan kotoran secara batin. Hal ini diperkuat oleh kemampuan tanah untuk menghilangkan kotoran-kotoran secara lahir ataupun mengurangi kadar kotornya. Ini adalah persoalan yang tidak asing bagi mereka yangilmu yang mendalam, sehingga mampu mengungkap hakikat-hakikat dari sesuatu amalan serta memahami kaitan antara lahir dan batin bersama interaksi yang terjadi diantara keduanya.


Adapun segi atau pandangan yang kedua, yaiut pensyari’atan tayamum yang hanya pada dua anggota badan (wudlu) tidak sesuai dengan akal, sementara telah diketahui, bahwa tayamum disyari’atkan pada seluruh anggota badan (wudlu) seperti halnya dengan air.

Akan tetapi, pada hakikatnya pensyari’atan tayamum hanya pada dua anggota badan (wudlu) berada pada puncak kesucian dan keselarasan dengan akal yang sehat, serta mengandung rasia dan hikmah yang cukup mendalam. Karena pada umumnya, melumuri kepala denagna debu (tanah) adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan jiwa yang normal. Oleh sebab itu, perbuatan tersebut umumnya hanya dilakukan orang saat ia ditimpa musibah dan kesulitan. Adapun kedua kaki umumnya adalah anggota badan yang senantiasa bersentuhan dengan tanah.


Dari sisi lain, menyapukan tanah (debu) kemuka atau wajah merupakan gambaran ketundukan dan pengagungan kepada Allah SWT, dan kerendan hati sangat disukai oleh Allah SWT dan mengandung manfaat yang besar bagi hamba. Oleh sebab itu, diperintahkan bagi setiap hamba untuk sujud dan langsung menempelkan wajahnya langsung ke tanah, dan tidak melakukan sesuatu yang menghalangi wajahnya bersebtuhan dengan tanah.


Apabila kita telusuri persoalan ini lebih jauh, maka akan nampak bagi kita hikmah lain yang unik, dimana tayamum disyari’atkan hanya pada dua anggota badan (wudlu) yang wajib dibasuh saat seseorang berwudlu, dan tidak disyari’atkan pada dua anggota badan (wudlu) lain yang boleh untuk dibasuh. Bukankah kaki boleh dibasuh di atas sepatu dan kepala boleh disuh di atas sorban? Maka setelah kepala dan kaki mendapat keringanan dari mencuci menjadi membasuh saat berwudlu, sudah sepatutnya apabila kedua anggota ini juga diberi keringanan atas dasar pengampunan untuk tidak disapu dengan tanah saat melakukan tayamum. Sebab, apabila kepala dan kaki disyari’atkan untuk disapu pula dengan tanah (debu) pada saat bertayamum, niscaya tidak ada keringanan yang terjadi (akan tetapi justru memberatkan). Yang ada hanyalah perpindahan bentu dari menyapu dengan menyapu dengan tanah (debu). Dan ini menyalahi hikmah pensyari’atan tayamum yang bertujuan memberikan keringanan. Dari sini nampak jelas, bahwa hokum yang ditetapkan oleh syari’at Islam itu demikian sempurna dan adil. Dan inilah timbangan yang benar untuk memahami persoalan ini.


Memang benar kalau banyak hikmah yang dapat dipetik dari adanya pensyari’atan ini, maka secara singkat akan diuraikan hikmah-hikmah yang lain diantaranya:
a. Untuk menunjukkan sifat Rahman dan Rahim Tuhan, bahwa syariat Islam itu tidak mempersulit umat-Nya. Manusia diperintah melaksanakan ajaran-Nya sesuai dengan kesanggupanmasing-masing. Bila tidak ada air atau dalam keadaan sakit yang tidak boleh menggunakan air, maka Allah memberikan kemurahan dengan memperbolehkan menggunakan debu sebagai pengganti air.
b. Hikmah yang terdapat pada tanah sebagai pengganti air untuk bersuci antara lain adalah tanah mudah didapat dan juga dapat melemahkan nafsu amarah kita, karena tanah yang biasanya kita injak, pada saat tayamum harus kita sapukan pada wajah kita. Ini berarti menuntut keikhlasan dan kesabaran kita.

c. Menyadarkan akan asal manusia diciptakan, bahwa dirinya diciptakan dari tanah. Ini berarti menuntut manusia agar bersifat merendahkan diri dan tidak berlaku sombong.
d. Memberikan kesadaran bahwa tidak ada alas an untuk meninggalkan ibadah. Hal ini juga menunjukkan keluwesan ajaran Islam yang lengkap sesuai dengan kebutuhan manusia. Contohnya, menggunakan debu untuk menghilangkan hadas karena ketidak adaan air atau udzur menggunakan air.


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Menurut pengertian syara’ tayamum adalah menyengaja (menggunakan) tanah untuk menyapu dua tangan dan wajah dengan niat agar dapat mengerjakan shalat dan sepertinya. Syarat-syarat dari tayamum yaitu: sudah masuk waktu shalat, sudah diusahakan mencari air tetapi tidak dapat, sedangkan waktu shalat sudah masuk, dengan tanah yang suci dan berdebu aerta yang terakhir menghilangkan najis. Adapun rukun-rukun tayamum ialah niat, mengusap wajah (muka) dengan tanah (debu), mengusap kedua tangan sampai ke siku dengan tanah (debu) dan menertibkan rukun-rukun tersebut. Sedangkan hal-hal yang membatalkan tayamum yaitu setiap perkara yang membatalkan wudlu dan ketika adanya air.

Hikmah yang dapat dipetik dari adanya pensyari’atan tayamum diantaranya yaitu: Pertama, untuk menunjukkan sifat Rahman dan Rahim Tuhan, bahwa syariat Islam itu tidak mempersulit umat-Nya. Manusia diperintah melaksanakan ajaran-Nya sesuai dengan kesanggupanmasing-masing. Bila tidak ada air atau dalam keadaan sakit yang tidak boleh menggunakan air, maka Allah memberikan kemurahan dengan memperbolehkan menggunakan debu sebagai pengganti air. Kedua, hikmah yang terdapat pada tanah sebagai pengganti air untuk bersuci antara lain adalah tanah mudah didapat dan juga dapat melemahkan nafsu amarah kita, karena tanah yang biasanya kita injak, pada saat tayamum harus kita sapukan pada wajah kita. Ini berarti menuntut keikhlasan dan kesabaran kita. Ketiga, menyadarkan akan asal manusia diciptakan, bahwa dirinya diciptakan dari tanah. Ini berarti menuntut manusia agar bersifat merendahkan diri dan tidak berlaku sombong. Dan yang keempat, memberikan kesadaran bahwa tidak ada alasan untuk meninggalkan ibadah. Hal ini juga menunjukkan keluwesan ajaran Islam yang lengkap sesuai dengan kebutuhan manusia.




DAFTAR PUSTAKA

Suparta, H. Mundzier MA. 2002. Fiqih Madrasah Aliyah kelas 1. Semarang: PT Karya Toha Putra
Rasjid, H. Sulaiman. 2006. Fiqih Islam. Bandung: PT Sinar Baru Algensindo
Ibnu Tamiyah dan Ibnu Qoyim. 2001. Hukum Islam dalam Timbangan Akal dan Hikmah. Jakarta: Pustaka Azzam.






 VERSI BAHASA INGGRIS 


CHAPTER IINTRODUCTIONA. BackgroundIn creating all things, Allah SWT always explain in detail why something was created. For example, we as human beings are the most precious among all His creatures, sent into the world as a caretaker Caliph universe. It is thus certainly no wisdom / our own secrets behind the creation of man. Entering the realm of sharia, as another example, is an item which is used as an alternative by which we as a substitute wudlu a legitimate requirement that tayamum prayers. In this tayamum also saved a certain wisdom that feel we need to know so that later in the approach to Him there is no obstacle that allows us to "run away" from the Islamic sharia.B. Problem Formulation1. Is understanding, and harmonious terms of tayamum?2. What is the wisdom behind tayamum?
CHAPTER IIDISCUSSIONA. Definition of Terms and Rukun TayamumTayamum said according to the same language with al-qashdu which means heading, menyengaja. According to the definition of Personality 'tayamum is menyengaja (uses) of land to sweep two hands and faces with the intention to be able to pray and seemed. Tayamum is wudlu or shower replacement, as rukhsa (waivers) for people who can not use water because of some obstruction (aging) is due to illness, because on the way, and in the absence of water. This tayamum Pensyari'atan by the word of God in the Q. S. Al-Nisa 'verse 43, as follows:And if you are ill or on a journey, or come from where you urinate or has touched a woman, then you do not get water, then you bertayamumlah with good soil (holy); sweep up your face and hands. Surely Allah is Pardoning, Oft-Forgiving
In this case there is a requirement of tayamum bebebrapa: first, it was signed in tayamum disyariai'atkan prayer intention for people forced. Before entering he has not had time to pray, because prayer has not waajib it when it. Second, have endeavored to find water but can not, while the prayer time has entered. We were told to do tayammum when there is no water after a search and sure do not exist, except for the sick who are not allowed to use the water, it is not a requirement for him. Third, the holy land and dusty. And the fourth, eliminate odious before tayammum means it should be clean from the unclean.The pillars are tayamum intentions, rubbed her face (face) with soil (dust), rubbed both hands up to the elbows to the ground (dust) and the pillars of the discipline. While the things that tayamum cancel each case which overturned wudlu and when the presence of water. Presence of water here is when mendaptkan water before prayer, then batallah tayamum for people who do tayamum such as lack of water is not due to illness.
B. Lessons TayamumDaintara accused of things that are reasonable menyelisihi tayamum problem. Then there is a response that is not acceptable tayamum sense when viewed from two aspects, namely: first, soil or dust is something dirty, so it can not remove dirt and other impurities. Similarly, it can not clean clothes. Second, tayamum only disyari'atkan on both limbs (wudlu), and this does not fit with common sense logic.
True if sharia tayamum it does not fit with that niggling sense. However, he is very in tune with a healthy mind. For verily Allah has made the water as su, the main areas of life, while men are created dati land. Our bodies tersiri of two elements, namely water and soil. And has also become an element of the two meals for us. Then they used as a tool for us to purity and worship. Soil is the material of human origin and occurrence of water is the source of life for Segal something. Then Allah SWT compile this nature and these two elements as its main source.
Basically, the materials used to clean the dirt from something of which ordinary circumstances is water. Not allowed to not use water as a cleaning material, except when the water does not exist, or because of obstacles such as illness and other causes (which can be justified by Personality '). When the conditions do not allow for the use of water as it is, then use the land as a substitute for water is far more important than others. This is because the soil is water siblings. Although the birth of the soil (dust) appear dirty, but it can purify the inner dirt. This was confirmed by the ability of the soil to eliminate impurities are born or reduce the levels of gross. This is a problem that is familiar to them yangilmu deep, so as to reveal the essence of nature-something practice and understand the link between the outer and inner joint interaction occurs between the two.
As for the second aspect or outlook, yaiut pensyari'atan tayamum that only the two limbs (wudlu) is not in accordance with reason, as is well known, that tayamum disyari'atkan on all limbs (wudlu) as well as with water.However, in essence pensyari'atan tayamum on only two limbs (wudlu) at the peak of sanctity and harmony with a healthy mind, and contain sufficient Rasia and deep wisdom. Because in general, denagna head rubbed dust (soil) is an act that is inconsistent with a normal life. Therefore, the act is generally only done when disaster struck and he had difficulty. The second leg is a limb that is generally always in contact with the ground.
From the other side, sweeping the ground (dust) come forward or face a picture of submission and reverence to God, and liver kerendan highly favored by God and contains a great benefit to the servant. Therefore, for every servant commanded to bow down and immediately pressed his face to the ground, and do not do anything that prevents bersebtuhan his face to the ground.
If we explore this issue further, it would seem to us another unique wisdom, which tayamum disyari'atkan on only two limbs (wudlu) that must be washed when someone berwudlu, and not disyari'atkan on both limbs (wudlu) Another may be to be washed. Would not be washed in the upper leg and the shoe should head above disuh turban? So after head and feet get relief from a wash when washing berwudlu, it is fitting if both members are also given waivers on the basis of forgiveness for not swept to the ground while doing tayamum. Therefore, if the head and feet were washed well with disyari'atkan for soil (dust) during tayammum, surely there is no relief that happens (but it burdensome). There is only bentu displacement of the rake to rake the soil (dust). And is against the wisdom pensyari'atan tayamum which aims to provide relief. From here it is clear, that the law set by the Shari'ah so perfect and fair. And this is the correct scale for understanding this issue.
It is true that a lot of lessons to be learned from the pensyari'atan this, it will be briefly described another wisdom-lessons include:a. To demonstrate the nature of Rahman and Rahim God, that Islamic law was not difficult for his people. Man ruled implement his teachings according to their kesanggupanmasing. If there is no water or in a state hospital may not use the water, God gives grace to allow the use of dust instead of water.b. Wisdom contained in the soil instead of water for purification, among others, are readily available land and the passion of anger can also weaken us, because we usually walk on land, at tayamum should we brush on our face. This means we require sincerity and patience.c. Aware of the origin of man was created, that he was created from the ground. This means that human demands obsequious and arrogant does not apply.d. Bring awareness that there is no reason to abandon worship. It also shows the complete flexibility of Islamic teachings according to human needs. For example, using a cleaner to remove ritual impurity due to lack of water or udzur circumstances use water.
CHAPTER IIICLOSINGConclusionAccording to the definition of Personality 'tayamum is menyengaja (uses) of land to sweep two hands and faces with the intention to be able to pray and seemed. Conditions of tayamum namely:'ve entered a time of prayer, has endeavored to find water but can not, while the prayer time has entered, the holy land and the last dusty Aerta eliminate unclean. The pillars are tayamum intentions, rubbed her face (face) with soil (dust), rubbed both hands up to the elbows to the ground (dust) and the pillars of the discipline. While the things that tayamum cancel each case which overturned wudlu and when the presence of water.Lessons to be learned from the pensyari'atan tayamum among which are: First, to show the nature of Rahman and Rahim God, that Islamic law was not difficult for his people. Man ruled implement his teachings according to their kesanggupanmasing. If there is no water or in a state hospital may not use the water, God gives grace to allow the use of dust instead of water. Both, the wisdom contained in the soil instead of water for purification, among others, are readily available land and the passion of anger can also weaken us, because we usually walk on land, at tayamum should we brush on our face. This means we require sincerity and patience. Third, be aware of the origin of man was created, that he was created from the ground. This means that human demands obsequious and arrogant does not apply. And fourth, to raise awareness that there is no reason to abandon worship. It also shows the complete flexibility of Islamic teachings according to human needs.


REFERENCESSuparta, H. Mundzier MA. , 2002. Fiqh Madrasah Aliyah class 1. Semarang: PT Karya Toha PutraRasjid, H. Sulaiman. 2006. Islamic jurisprudence. Bandung: PT Sinar Baru AlgensindoIbn Ibn Tamiyah and Qoyim. , 2001. Islamic law in Scales Intellect and Wisdom. Jakarta: Pustaka Azzam


 

Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit

Artikel Terkait MAKALAH PTK

0 komentar:

SKRIPSI LENGKAP

LABEL

HOPE YOU HAPPY

Terima kasih sudah berkunjung....Jika ada yang belum jelas, Silahkan hubungi saya di alamat E-mail : wiratrick@gmail.com

Get this widget!

  © Blogger templates The Professional Template by Top Education, Skripsi Terbaru , Artikel Bahasa Inggris 2013

Back to TOP