Sunday, June 23, 2013

KUMPULAN CONTOH KARYA ILMIAH TRADISI PENGAWETAN ”BOLO PECAH” DENGAN DAUN BAMBU





KARYA ILMIAH REMAJA

 TRADISI PENGAWETAN ”BOLO PECAH” DENGAN DAUN BAMBU





BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

              Bambu merupakan salah satu jenis dari keluarga rumput-rumputan. Bambu memiliki jenis yang bermacam-macam dan tersebar diseluruh dunia. Bambu banyak tumbuh didaerah yang subur dan tidak tergenang oleh air. Di Indonesia sendiri, bambu hampir dapat ditemui diberbagai daerah dan beranekaragam jenisnya. Beberapa diantaranya ada yang berwarna kuning, hitam, dan hijau. Masing-masing bambu memiliki fungsi yang berbeda tergantung pada ketahana, kelenturan, dan bentuknya.
              Bambu juga memiliki banyak fungsi, dari ujung akar sampai ujung batang semuanya dapat dimanfaatkan. Misalnya untuk bahan bangunan (khusus untuk jenis bambu yang kuat dan besar-besar), kayu bakar, kerajinan akar bambu, makanan (untuk bagian tunasnya), alat musik (untuk jenis bambu yang memiliki ukuran sedang hingga kecil), senjata tradisional, transportasi (sepeda yang terbuat dari bambu), tanaman hias (untuk jenis bambu tertentu), dan untuk membuat obat-obatan yang dapat menyembuhkan sakit batuk, sesak napas, dan menetralkan racun (ekstrak daunya).
               Selain pada daunya yang dapat dimanfaatkan sebagai obat, di daerah tempat tinggal saya di Dusun Melikan, Desa Popongan Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar, daun bambu digunakan untuk mengawetkan barang-barang yang terbuat dari kaca (bolo pecah) kususnya piring dan gelas agar lebih kuat dan kacapun mencadi lebih bening dan bersih. Entah sejak kapan, tradisi tersebut sudah turun temurun sejak dulu.
               Mereka mangawetkanya dengan cara merebus daun bambu yang sudah dibersihkan bersama piring dan gelas tersebut (bolo pecah) hingga mendidih. Daun bambu tersebut bebas tidak terikat oleh jenis bambunya.
               Tradisi yang turun-temurun tersebut sangat unik dan menarik bagi saya untuk mempelajarinya serta menemukan jawaban dari tradisi tersebut. Oleh karena itu dari tradisi diatas saya akan melakuakan sebuah penelitian yang berjudul Tradisi Pengawetan ”BOLO PECAH” dengan Daun Bambu.

B.   Pembatasan Masalah
            Mengingat permasalahan yang menyangkut dengan pengawetan berbagai jenis kaca sangatlah banyak dan tidak mungkin penulis dapat membahasnya secara keseluruhan. Dan terbatasnya kemampuan intelektual, sarana-sarana yang kurang memadai, waktu yang terbatas, dan keuangan yang kurang mendukung, maka penulis akan membatasi permasalahanya yang sesuai dengan kebudayaan di desa penulis. Yaitu tentang pengawetan gelas dan piring dengan menggunakan daun bambu.    

C.   Perumusan Masalah
            Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat dibuat rumusan masalah, yaitu, Apakah barang-barang yang terbuat dari kaca khususnya piring dan gelas (bolo pecah) dapat diawetkan dengan menggunakan daun bambu?

D.   Tujuan Penelitian
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah barang-barang yang terbuat dari kaca khususnya piring dan gelas (bolo pecah) dapat diawetkan dengan menggunakan daun bambu dan dapat memberikan pembenaran pada budaya pengawetan tersebut.

E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi :
1.                                                             Penulis         : Membuktikan rasa penasaran penulis terhadap budaya pengawetan kaca dengan daun bambu.
2.                                                             Masyarakat : Sebagai sumber informasi bagi masyarakat agar bisa mengawetkan kaca piring dan gelas dengan daun bambu dan memberikan penjelasan tentang sebab-sebab daun bambu dapat mengawetkan kaca piring dan gelas
3.                                                                              Pengembangan Ilmu: Sebagai sumber informasi dalam pengembangan lebih lanjut tentang flavonoid.





 BAB II
LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS


A. Landasan Teori
1. Bambu
             Bambu merupakan anggota dari keluarga Poaceae yang memiliki ukurun paling besar. Sama seperti anggota keluarga lainya, bambu tidak mempunyai xilem sehingga tidak dapat melakukan pertumbuhan sekunder kayu yang menyebabkan batang monokotil. Bambu merupakan jenis tanaman yang memiliki pertumbuhan yang tercepat di dunia. Mereka mampu tumbuh 60 cm (24 inci) atau lebih per hari. Namun, tingkat pertumbuhanya sangat tergantung pada tanah setempat dan kondisi iklim.
             Bambu memiliki sekitar 1.450 spesies yang tersebar dilebih dari 70 negara di dunia ini. Bambu juga menjadi signifikansi ekonomi dan budaya terkemuka di Asia Timur dan Asia Tenggara , bambu itu banyak digunakan untuk bahan bangunan , sebagai sumber makanan, dan sebagai produk mentah serbaguna. (Wikipedia, The free encyclopedia, 2010)

1.1   Sistematika
Kingdom : Plantae
Divisio    : Spermatophyta
Class       : Monocotyledonae
Ordo        : Commelinales
Famili     : Poaceae
Genus     : Bambusa
Spesies   : Bambusa bambos (L.) Voss


 1.2 Struktur morfologi dan anatomi pohon bambu
1.2.1 Akar
             Akar bambu merupakan jenis akar serabut. Akar bambu terdiri atas rimpang (rhizon) berbuku dan beruas, pada buku akan ditumbuhi oleh serabut dan tunas yang dapat tumbuh menjadi batang, menurut K.Windnyana Fakultas Pertanian UMD.
             Walaupun mempunyai akar serabut, tetapi akarnya mampu menyebar hingga beberapa meter kesemua penjuru. Dan dapat menjaga pohon bambu yang tingginya mencapai puluhan meter agar tidak tumbang. 


1.2.2 Rebung
             Rebung merupakan tunas dari bambu yang berfungsi untuk memperbanyak diri selain dari biji. Rebung memiliki bentuk seperti kerucut. Rebung akan muncul setelah bambu berusia kurang lebih 2-3 tahun dan muncul dari pangkal batang bambu.             
             Karakter rebung dapat digunakan untuk membedakan setiap jenis bambu, yaitu : bentuk rebung, warna pelepah rebung, warna bulu pada pelepah rebung, posisi daun pelepah rebung, bentuk kuping pelepah dan pinggiran daun pelepah rebung. Bentuk rebung terdiri dari bentuk mengerucut dan bentuk ramping. Bambu yang berdiameter lebih dari 10 cm, umumnya memiliki bentuk rebung mengerucut, sedangkan bambu yang berdiameter kurang dari 10 cm memiliki bentuk rebung yang ramping. (Budi Irawan,dkk, Staf Pengajar Jurusan Biologi FMIPA UNPAD, 2006)
            Rebung merupakan salah satu makanan alami yang memiliki rasa yang enak  dan kaya akan nutrisi. Menurut penelitian, rebung mengandung protein 2.65-3.28%, lemak 0.49%, total gula 2.5% , crude fiber 0.68%, phosphorus, magnesium, calcium, iron, vitamin B1, B2, C, dan 17 macam asam amino lainya. Rebung juga dianggap sebagai makanan yang dapat mendietkan. Karena selulosa di dalam rebung dapat membantu gerakan peristaltik, meningkatkan proses pencernaan dan ekskersi.
1.2.3 Batang
Batang bambu memiliki bentuk tabung yang membujur keatas. Batang bambu tersusun atas ruas-ruas yang bertumpuk dan dipisahkan oleh sebuah sekat-sekat. Di Indonesia kebanyakan batang-batang bambu hidup mengelompok/menggerombol.
            Kolom bambu terdiri atas sekitar 50% parenkim, 40% serat dan 10% sel penghubung (pembuluh dan sieve tubes) Dransfield dan Widjaja (1995) dalam Krisdianto,dkk. Parenkim dan sel penghubung lebih banyak ditemukan pada bagian dalam dari kolom, sedangkan serat lebih banyak ditemukan pada bagian luar. Sedangkan susunan serat pada ruas penghubung antar buku memiliki kecenderungan bertambah besar dari bawah ke atas sementara parenkimnya berkurang.
            Batang bambu banyak dimanfaatkan untuk bahan bangunan, kerajinan tangan, dan perabot alat rumah tangga lainya.

1.2.4 Daun
            Karakter daun pada pada pohon bambu berupa daun yang berbentuk lonjong pipih yang memenjang. Ukuranya sangat berfariasi tergantung jenisnya, tapi pada umumnya ukuranya berkisar antara 4-8 cm X 10-30 cm. Beberapa diantaranya ada yang memiliki bulu-bulu halus disekitar pinggiran dan bagian bawah daun bambu. Juga umumnya berwarna hijau muda atau hijau tua, tapi ada satu jenis bambu yang berwarna hijau dan bergaris warna putih yaitu pada jenis bambu B.glaucophylla.
            Selain itu menurut Budi Irawan,dkk, (2006) karakter daun dapat digunakan dalam mengelompokkan bambu ke dalam tingkatan jenis (spesies). Adapun karakter pembeda daun dari masing masing bambu adalah ukuran, warna daun, permukaan atas dan bawah daun, ada tidaknya bulu pada pelepah, bentuk kuping pelepah daun, tinggi kuping pelepah, tinggi ligula, pinggiran ligula dan ada tidaknya bulu kejur pada ligula.
            Di dalam daun bambu juga terdapat kandungan zat kimia berupa flavonoid. Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari 15 atom karbon yang umumnya tersebar di dunia tumbuhan, dimana dua cincin benzene (C6) (cincin A dan B) terikat pada suatu rantai propane (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Flavonoid ini tidak larut dalam air, tetapi dapat meleleh pada suhu 100°C.

                                Cincin A                                Cincin B


                                                    
      Susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis struktur, yakni 1,3-diarilpropane atau flavonoid, 1,2-diarilpropane atau isoflavonoid, dan 1,1-diarilpropan atau neoflavonoid. Ketiga struktur tersebut seperti berikut.




NB :  JIKA SOBAT INGIN VERSI LENGKPANYA , SILAHKAN REQUEST DIKOLOM KOMENTAR, SAYA AKAN MENGIRIMKAN KE ALAMAT E-MALI SOBAT, FREE.......................

Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit

Artikel Terkait KUMPULAN CONTOH KARYA ILMIAH TRADISI PENGAWETAN ”BOLO PECAH” DENGAN DAUN BAMBU

2 komentar:

Hybrid car March 22, 2013 at 4:38 PM  

Lihat kata "Bolo Pecah", jadi ingat kampung halaman. Bahasa Ibu banget.. :)

ana jelita May 11, 2013 at 10:24 PM  

pengen ni karya dunk buat aku abstrakin ada tugas kampus nich...
thx...

SKRIPSI LENGKAP

LABEL

HOPE YOU HAPPY

Terima kasih sudah berkunjung....Jika ada yang belum jelas, Silahkan hubungi saya di alamat E-mail : wiratrick@gmail.com

  © Blogger templates The Professional Template by Top Education, Skripsi Terbaru , Artikel Bahasa Inggris 2013

Back to TOP