METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Contoh Metodologi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Selamat berjumpa
dengan Program Better Education Through Reformed Management and Universal
Teacher Upgrading (BERMUTU). Program BERMUTU ini bertujuan untuk meningkatkan
mutu pendidikan melalui profesionalisme dan kinerja guru secara berkelanjutan
dengan perberdayaan berbagai kelompok kerja, termasuk KKG/MGMP. Agar kegiatan
yang diselenggarakan oleh KKG/MGMP berkualitas dan dapat diakreditasi oleh
perguruan tinggi, maka perlu disusun paket pembelajaran yang berkualitas berupa
modul dan suplemennya atau pendukung dan pelengkap Bahan Belajar Mandiri (BBM)
program BERMUTU yang telah dikembangkan sebelumnya.
Modul suplemen ini
membahas mengenai Metodologi Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan sasaran guru
Sekolah Dasar (SD). Setelah Anda mempelajari modul suplemen ini diharapkan
dapat mempermudah guru dalam memahami
dan menerapkan metodologi pembelajaran bahasa Indonesia di SD.
B.
Tujuan
Tujuan dari
disusunnya suplemen modul ini diharapkan Anda mampu:
1) memiliki
pengetahuan yang memadai tentang metodologi pembelajaran bahasa Indonesia di
SD;
2) menjelaskan
konsep metodologi pembelajaran bahasa Indonesia;
3) mengembangkan
kreativitas guru dalam menyiasati standar isi mata pelajaran bahasa Indonesia
dalam bentuk pembelajaran yang bermakna dan bernuansa PAKEM; dan
4) mampu
menerapkan metode/strategi yang sesuai dengan materi pembelajaran bahasa
Indonesia sesuai dengan tuntutan standar isi dan silabus.
C.
Alokasi Waktu
Waktu yang
dialokasikan untuk mempelajari modul suplemen ini adalah 6 X 50 menit.
D.
Sasaran
Sasaran modul
suplemen ini adalah guru bahasa Indonesia jenjang SD baik yang berkualifikasi
S-1 maupun non-S-1 yang bergabung dalam KKG program BERMUTU.
BAB II
KONSEP METODOLOGI PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA
- Pengertian Pendekatan, Metode, Teknik , dan Strategi
Banyak yang tidak
paham dengan perbedaan antara pendekatan, metode, dan teknik. Sebelum kita
membahas mengenai perbedaan tiga hal di atas, terlebih dahulu kita membahas
pengertian model pembelajaran. Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran
yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di
kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa
dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Nah, berikut ini ulasan
singkat tentang perbedaan istilah tersebut.
Pendekatan dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi
pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau
pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta
strategi pembelajaran induktif (Sanjaya, 2008:127).
Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan
ke dalam berbagai metode. Metode adalah prosedur pembelajaran yang
difokuskan ke pencapaian tujuan. Teknik
dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran. Teknik
adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu
metode. Misalnya, cara yang bagaimana yang harus dilakukan agar metode ceramah
yang dilakukan berjalan efektif dan efisien? Dengan demikian sebelum seorang
melakukan proses ceramah sebaiknya memerhatikan kondisi dan situasi. Taktik
adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu.
Strategi digunakan
untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan.
Strategi pembelajaran
dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang
didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (J.R. David dalam Sanjaya, 2008:126)
Selanjutnya
dijelaskan strategi pembelajaran adalah
suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Kemp dalam Sanjaya,
2008:126).
Istilah strategi sering
digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang selalu sama. Dalam konteks
pengajaran strategi bisa diartikan sebagai suatu pola umum tindakan
guru-peserta didik dalam manifestasi aktivitas pengajaran (Ahmad Rohani, 2004 :
32). Sementara itu, Joyce dan Weil lebih senang memakai istilah model-model
mengajar daripada menggunakan strategi pengajaran (Joyce dan Weil dalam Rohani, 2004:33).
Nana Sudjana menjelaskan
bahwa strategi mengajar (pengajaran) adalah “taktik” yang digunakan guru dalam
melaksanakan proses belajar mengajar (pengajaran) agar dapat mempengaruhi para
siswa (peserta didik) mencapai tujuan pengajaran secara lebih efektif dan
efisien (Nana Sudjana dalam Rohani, 2004: 34)
. Jadi menurut Nana Sudjana, strategi mengajar/pengajaran ada pada
pelaksanaan, sebagai tindakan nyata atau perbuatan guru itu sendiri pada saat
mengajar berdasarkan pada rambu-rambu dalam satuan pelajaran.
Berdasarkan
pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa strategi pembelajaran harus
mengandung penjelasan tentang metode/prosedur dan teknik yang digunakan selama
proses pembelajaran berlangsung. Dengan perkataan lain, strategi pembelajaran
mempunyai arti yang lebih luas daripada metode dan teknik. Artinya,
metode/prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi
pembelajaran. Dari metode, teknik
pembelajaran diturunkan secara aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat
pembelajaran berlangsung.
B. Jenis-Jenis
Pendekatan, Metode, dan Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia
1. Jenis-Jenis
Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pendekatan
pembelajaran bahasa Indonesia dalam tulisan
ini dibatasi pada empat macam pendekatan, yaitu pendekatan whole
language, pendekatan kontekstual, dan pendekatan komunikatif, dan
pendekatan integratif.
1) Pendekatan
Whole Language
Whole
language adalah suatu pendekatan pembelajaran
bahasa yang menyajikan pembelajaran
bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah. (Edelsky, 1991; Froese, 1990;
Goodman, 1986; Weafer, 1992, dalam Santosa, 2004). Para ahli whole language
berkeyakinan bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat
dipisah-pisah (Rigg, 1991). Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa
dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh
bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik. Pengajaran tentang penggunaan
tanda baca, umpamanya, diajarkan sehubungan dengan pembelajaran keterampilan
menulis. Demikian juga pembelajaran membaca dapat diajarkan bersamaan dengan
pembelajaran berbicara, pembelajaran sastra dapat disajikan bersamaan dengan
pembelajaran membaca dan menulis ataupun berbicara. Selain itu, dalam
pendekatan whole language,
pembelajaran bahasa dapat juga disajikan sekaligus dengan materi
pelajaran lain, umpamanya bahasa-matematika, bahasa-IPS, bahasa-sains,
bahasa-agama.
Pendekatan whole
language didasari oleh paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak
membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara
utuh (whole) dan terpadu (integrated) (Robert dalam Santosa,
2004:2.3). Anak termotivasi untuk belajar jika mereka melihat bahwa yang
dipelajarinya memang bermakna bagi mereka. Orang dewasa, dalam hal ini guru,
berkewajiban untuk menyediakan lingkungan yang menunjang untuk siswa agar
mereka dapat belajar dengan baik. Fungsi guru dalam kelas whole language
berubah dari fungsi desiminator informasi menjadi fasilitator (Lamme &
Hysmith, 1993).
Ciri-ciri Kelas Whole
Language
Ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole
languag. :
a.
Kelas yang menerapkan whole
language penuh dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut kabinet dan
sudut belajar. Poster hasil kerja siswa menghiasi dinding dan bulletin
board. Karya tulis siswa dan chart yang dibuat siswa menggantikan bulletin
board yang dibuat oleh guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi
perpustakan yang dilengkapi berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks),
majalah, koran, kamus, buku pentunjuk dan berbagai barang cetak lainnya.
b.
Siswa belajar melalui model
atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis,
menyimak, dan berbicara.
c.
Siswa bekerja dan belajar
sesuai dengan tingkat perkembangannya.
d.
Siswa berbagi tanggung jawab
dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language hanya sebagai
fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya
dilakukan oleh guru.
e.
Siswa terlibat secara aktif
dalam pembelajaran bermakna. Dalam
hal ini interaksi guru adalah multiarah.
f.
Siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen.
Guru tidak mengharapkan kesempurnaan, yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan
siswa dapat diterima.
g.
Siswa mendapat balikan (feed back) positif baik dari
guru maupun temannya. Konferensi antara guru dan siswa memberi
kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan
diri. Siswa yang mempresentasikan hasil
tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal
ini dapat membangkitkan rasa percaya diri.
Dari ketujuh ciri tersebut
dapat terlihat bahwa siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu
berdiri lagi di depan kelas meyampaikan materi. Sebagai fasilitator guru
berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru
menilai siswa secara informal.
Penilaian dalam Kelas Whole
Language
Dalam kelas whole language
guru senantiasa memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Secara
informal selama pembelajaran berlangsung guru memperhatikan siswa menulis,
mendengarkan siswa berdiskusi baik dalam kelompok maupun diskusi kelas. Ketika
siswa bercakap-cakap dengan temannya atau dengan guru, penilaian juga
dilakukan. Bahkan, guru juga memberikan penilaian saat siswa bermain selama
waktu istirahat. Kemudian, penilaian juga berlangsung ketika siswa dan guru
mengadakan konferensi. Walaupun guru tidak terlihat membawa-bawa buku, guru
menggunakan alat penilaian seperti lembar observasi dan catatan anekdot. Dengan
kata lain, dalam kelas whole language guru memberikan penilaian pada
siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selain penilaian informal,
penilaian juga dilakukan dengan menggunakan portofolio. Portofolio adalah
kumpulan hasil kerja selama kegiatan pembelajaran. Dengan portofolio
perkembangan siswa dapat terlihat secara otentik.
2) Pendekatan
Kontekstual
Pendekatan kontekstual
mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna konteks sesuai
dengan situasi nyata lingkungan seseorang melalui pencarian hubungan masuk akal
dan bermanfaat. Melalui pemaduan materi yang dipelajari dengan pengalaman
keseharian siswa akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam. Siswa
akan mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru
dan belum pernah dihadapinya dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuannya. Siswa diharapkan dapat membangun
pengetahuannya yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan
memadukan materi pelajaran yang telah diterimanya di sekolah.
Nathan Gage in Brown mendefinisikan
pengajaran sebagai berikut, “Teaching is guiding and facilitating learning,
enabling the learner to learn, setting the conditions for learning,” (H. Douglas Brown, 1994:7). Mengajar berarti memandu dan memfasilitasi belajar memungkinkan
pemelajar untuk belajar, menciptakan kondisi belajar.
Definisi di atas menunjukkan bahwa pengajaran tidak dapat
dipisahkan dari pembelajaran. Pengajaran merupakan kegiatan yang diciptakan
oleh guru untuk memfasilitasi siswa dalam proses pembelajaran. Pengajaran
merupakan kegiatan yang sangat memerlukan keterlibatan siswa. Demikian juga
dengan pendekatan kontekstual yang
berpusat pada siswa.
Kontekstual
adalah kaidah yang dibentuk berazaskan maksud kontekstual itu sendiri,
seharusnya mampu membawa pelajar ke pemelajaran isi dan konsep yang berkenaan
atau relevan bagi mereka, dan juga memberi makna dalam kehidupan seharian mereka. Jadi, pemelajaran kontekstual merupakan satu
konsepsi pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan bahan subjek
yang dipelajari dengan situasi dunia sebenarnya dan memotivasikan pemelajar
untuk membuat perkaitan antara pengetahuan dengan aplikasinya dalam kehidupan
harian mereka sebagai ahli keluarga, warga masyarakat, dan pekerja.
Elaine B.
Johnson memberikan penjelasan bahwa Contextual Teaching Learning (CTL) adalah sebuah
sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap
pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka
terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa
mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka
miliki sebelumnya. (Elaine B. Johnson, 2007:14).
Dalam
pendekatan kontekstual, ada delapan komponen yang harus ditempuh, yaitu: 1)
Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, 2) melakukan pekerjaan yang
berarti, 3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, 4) bekerja sama, 5)
berpikir kritis dan kreatif, 6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang,
7) mencapai standar yang tinggi, 8) menggunakan penilaian autentik (Elaine B.
Johnson, 2007:65-66).
Berdasarkan
pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa pendekatan kontekstual adalah mempraktikkan konsep belajar yang mengaitkan materi yang
dipelajari dengan situasi dunia nyata siswa. Siswa secara bersama-sama
membentuk suatu sistem yang memungkinkan mereka melihat makna di dalamnya.
Pendekatan
kontekstual dapat diterapkan dalam mata pelajaran apa saja. Tidak terkecuali
dalam pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut konsep CTL,
“Belajar akan lebih bermakna jika anak didik ‘mengalami’ apa yang
dipelajarinya, bukan sekedar ‘mengetahui’ apa yang dipelajarinya. Pembelajaran
yang berorientasi pada target penguasaan materi terbukti berhasil dalam
kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak didik
memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang (Hernowo, 2005:61).
CTL merupakan konsep
belajar yang membantu para guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya
dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimiliki dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan
siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa.
Proses pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Contextual
Teaching and Learning (CTL) adalah suatu
pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara
penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan
situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya
dalam kehidupan meraka (Sanjaya, 2005:109).
Dari konsep tersebut
ada tiga hal yang harus kita pahami. Pertama, CTL menekankan kepada
proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. Artinya, proses belajar
diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam
konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, tetapi yang
diutamakan adalah proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua,
CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari
dengan situasi kehidupan nyata. Artinya, siswa dituntut untuk dapat menangkap
hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini
sangat penting sebab dengan dapat mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan
kehidupan nyata, materi yang dipelajarinya itu akan bermakna secara fungsional
dan tertanam erat dalam memori siswa sehingga tidak akan mudah terlupakan.
Ketiga,
CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan.
Artinya, CTL tidak hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang
dipelajarinya, tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam
kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL tidak untuk ditumpuk
di otak dan kemudian dilupakan, tetapi sebagai bekal bagi mereka dalam
kehidupan nyata.
Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan
CTL:
a. Dalam
CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing
knowledge). Artinya, apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari
pengetahuan yang sudah dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan
diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu
sama lain.
b. Pembelajaran
yang kontekstual adalah pembelajaran dalam rangka memperoleh dan menambah
pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu dapat diperoleh dengan cara
deduktif. Artinya, pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara
keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya.
c. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge)
berarti pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal,
melainkan untuk dipahami dan diyakini.
d. Mempraktikkan
pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge). Artinya, pengetahuan
dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan
nyata.
e. Melakukan
refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.
Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan
strategi.
Di sisi lain, Hernowo
(2005:93) menawarkan langkah-langkah praktis menggunakan strategi pembelajaran
berdarakan CTL.
a. Kaitkan setiap mata pelajaran dengan seorang
tokoh yang sukses dalam menerapkan mata pelajaran tersebut.
- Kisahkan terlebih dahulu riwayat hidup sang tokoh atau temukan cara-cara sukses yang ditempuh sang tokoh dalam menerapkan ilmu yang dimilikinya.
- Rumuskan dan tunjukkan manfaat yang jelas dan spesifik kepada anak didik berkaitan dengan ilmu (mata pelajaran) yang diajarkan kepada mereka.
- Upayakan agar ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah dapat memotivasi anak didik untuk mengulang dan mengaitkannya dengan kehidupan keseharian mereka.
- Berikan kebebasan kepada setiap anak didik untuk mengkonstruksi ilmu yang diterimanya secara subjektif sehingga anak didik dapat menemukan sendiri cara belajar alamiah yang cocok dengan dirinya.
- Galilah kekayaan emosi yang ada pada diri setiap anak didik dan biarkan mereka mengekspresikannya dengan bebas.
- Bimbing mereka untuk menggunakan emosi dalam setiap pembelajaran sehingga anak didik penuh arti (tidak sia-sia dalam belajar di sekolah).
Berdasarkan
penjelasan di atas, berarti pendekatan kontekstual bertujuan membekali siswa dengan
pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu
permasalahan ke permasalahan lain dan dari satu konteks ke konteks lainnya. Dengan transfer
diharapkan: (a) siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari ‘pemberian
orang lain’; (b) keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang
terbatas (sempit) sedikit demi sedikit; (c) Penting bagi siswa tahu ‘untuk apa’
ia belajar, dan ‘bagaimana’ ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.
3) Pendekatan
Komunikatif
Munculnya pendekatan
komunikatif dalam pembelajaran bahasa bermula dari adanya perubahan-perubahan
dalam tradisi pembelajaran bahasa di Inggris pada tahun 1960-an menggunakan
pendekatan situasional (Tarigan, 1989:270). Dalam pembelajaran bahasa secara
situasional, bahasa diajarkan dengan cara mempraktikkan/melatihkan
struktur-struktur dasar dalam berbagai kegiatan berdasarkan situasi yang
bermakna. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, seperti halnya teori
linguistik yang mendasari audiolingualisme, ditolak di Amerika Serikat pada
pertengahan tahun 1960-an dan para pakar linguistik terapan Inggris pun mulai
mempermasalahkan asumsi-asumsi yang mendasari pengajaran bahasa situasional.
Menurut mereka, tidak ada harapan/masa depan untuk meneruskan mengajar gagasan
yang tidak masuk akal terhadap peramalan bahasa berdasarkan peristiwa-peristiwa
situasional. Apa yang dibutuhkan adalah suatu studi yang lebih cermat mengenai
bahasa itu sendiri dan kembali kepada konsep tradisional bahwa ucapan-ucapan
mengandung makna dalam dirinya dan mengekspresikan makna serta maksud-maksud
pembicara dan penulis yang menciptakannya (Howatt, 1984:280, dalam Tarigan,
1989:270).
Pendekatan komunikatif adalah suatu
pendekatan yang bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan
pembelajaran bahasa, juga mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembelajaran 4
keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis), mengakui
dan menghargai saling ketergantungan bahasa.
Ciri utama pendekatan
komunikatif adalah adanya 2 kegiatan
yang saling berkaitan erat, yakni adanya kegiatan-kegiatan komunikatif
fungsional (functional communication activies) dan kegiatan-kegiatan
yang sifatnya interaksi sosial (social interaction activies). Kegiatan
komunikatif fungsional terdiri atas 4 hal, yakni: mengolah infomasi, berbagi
dan mengolah informasi, berbagi informasi dengan kerja sama terbatas, dan
berbagi informasi dengan kerja sama tak terbatas. Kegiatan interaksi sosial
terdiri atas 6 hal, yakni: improvisasi lakon-lakon pendek yang lucu, aneka simulasi,
dialog dan bermain peran, sidang-sidang konversasi, diskusi, serta berdebat.
Ada delapan aspek
yang berkaitan erat dengan pendekatan komunikatif (David Nunan, 1989, dalam
Solchan T.W., dkk. 2001:66), yaitu:
- Teori Bahasa Pendekatan Komunikatif berdasarkan teori bahasa menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa adalah suatu sistem untuk mengekspresikan makna, yang menekankan pada dimensi semantik dan komunikatif daripada ciri-ciri gramatikal bahasa. Oleh karena itu, yang perlu ditonjolkan adalah interaksi dan komunikasi bahasa, bukan pengetahuan tentang bahasa.
- Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini adalah teori pemerolehan bahasa kedua secara alamiah.
- Tujuan mengembangkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi komunikatif).
- Silabus harus disusun searah dengan tujuan pembelajaran dan tujuan yang dirumuskan dan materi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan siswa.
- Tipe kegiatan tukar menukar informasi, negosiasi makna atau kegiatan lain yang bersifat riil.
- Peran guru fasilitator proses komunikasi, partisipan tugas dan tes, penganalisis kebutuhan, konselor, dan manajer proses belajar.
- Peran siswa pemberi dan penerima, sehingga siswa tidak hanya menguasai bentuk bahasa, tapi juga bentuk dan maknanya.
- Peranan materi pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi nyata.
Prosedur-prosedur
pembelajaran berdasarkan pendekatan komunikatif lebih bersifat evolusioner
daripada revolusioner. Adapun garis kegiatan pembelajaran yang ditawarkan
mereka adalah: penyajian dialog singkat,
pelatihan lisan dialog yang disajikan, penyajian tanya jawab, penelaah dan
pengkajian, penarikan simpulan, aktivitas interpretatif, aktivitas produksi
lisan, pemberian tugas, pelaksanaan evaluasi.
4) Pendekatan
Integratif
Pendekatan Integratif dapat dimaknakan sebagai
pendekatan yang menyatukan beberapa
aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan
antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang
studi diintegrasikan. Misalnya, mendengarkan diintegrasikan dengan berbicara
dan menulis. Menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Materi
kebahasaan diintegrasikan dengan keterampilan bahasa. Integratif antarbidang
studi merupakan pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Misalnya,
bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lainnya.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif
interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat mengajarkan kalimat, guru tidak
secara langsung menyodorkan materi kalimat ke siswa tetapi diawali dengan
membaca atau yang lainnya. Perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru
yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak
merasakan perpindahan materi.
Integratif sangat diharapkan
dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pengintegrasiannya diaplikasikan sesuai
dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak
dipisah-pisahkan. Materi ajar justru merupakan kesatuan yang perlu dikemas
secara menarik.
2. Jenis-Jenis
Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia
1)
Metode Audiolingual
Metode
audiolingual sangat mengutamakan drill (pengulangan). Metode itu muncul
karena terlalu lamanya waktu yang ditempuh dalam belajar bahasa target. Padahal
untuk kepentingan tertentu, perlu penguasaan bahasa dengan cepat. Dalam
audiolingual yang berdasarkan pendekatan struktural itu, bahasa yang diajarkan
dicurahkan pada lafal kata, dan pelatihan berkali-kali secara intensif
pola-pola kalimat. Guru dapat memaksa siswa untuk mengulang sampai tanpa
kesalahan.
Langkah-langkah
yang biasanya dilakukan adalah (a) penyajian dialog atau teks pendek yang
dibacakan guru berulang-ulang dan siswa menyimak tanpa melihat teks yang
dibaca, (b) peniruan dan penghafalan teks itu setiap kalimat secara serentak
dan siswa menghafalkannya, (c) penyajian kalimat dilatihkan dengan pengulangan,
(d) dramatisasi dialog atau teks yang dilatihkan kemudian siswa memperagakan di
depan kelas, dan (e) pembentukan kalimat lain yang sesuai dengan yang dilatihkan
2)
Metode
Komunikatif
Desain
yang bermuatan komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap
tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan
ke dalam tujuan konkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini
dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis,
diutarakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistis. Sepucuk surat adalah sebuah
produk. Demikian pula, sebuah perintah, pesan, laporan, atau peta, juga
merupakan produk yang dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu, produk-produk
tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas yang berhasil.
Contohnya menyampaikan pesan kepada orang lain
yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan itu dapat dipecah menjadi (a)
memahami pesan, (b) mengajukan pertanyaan untuk menghilangkan keraguan, (c)
mengajukan pertanyaan untuk memperoleh lebih banyak informasi, (d) membuat
catatan, (e) menyusun catatan secara logis, dan (f) menyampaikan pesan secara
lisan. Dengan begitu, untuk materi bahasan penyampaian pesan saja, aktivitas
komunikasi dapat terbangun secara menarik, mendalam, dan membuat siswa lebih
intensif.
3)
Metode Produktif
Metode
produktif diarahkan pada berbicara dan menulis. Siswa harus banyak berbicara
atau menuangkan gagasannya. Dengan menggunakan metode produktif diharapkan
siswa dapat menuangkan gagasan yang terdapat dalam pikirannya ke dalam
ketrampilan berbicara dan menulis secara runtun. Semua gagasan yang disampaikan dengan menggunakan bahasa yang
komunikatif. Yang dimaksud dengan komunikatif di sini adalah adanya respon dari
lawan bicara. Bila kita berbicara lawan bicara kita adalah pendengar, bila kita
menulis lawan bicara kita adalah pembaca.
4)
Metode Langsung
Metode
langsung berasumsi bahwa belajar bahasa yang baik adalah belajar yang langsung
menggunakan bahasa secara intensif dalam komunikasi. Tujuan metode langsung
adalah penggunaan bahasa secara lisan agar siswa dapat berkomunikasi secara
alamiah seperti penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat.
Siswa diberi latihan-latihan untuk
mengasosiasikan kalimat dengan artinya melalui demonstrasi, peragaan, gerakan,
serta mimik secara langsung.
5)
Metode Partisipatori
Metode
pembelajaran partisipatori lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh.
Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai
subjek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil
belajar. Guru hanya bersifat sebagai pemandu atau fasilitator.
Dalam
metode partisipatori siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subjek. Namun,
bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi belajar
siswa dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Guru berperan
sebagai pemandu yang penuh dengan motivasi, pandai berperan sebagai moderator
dan kreatif. Konteks siswa menjadi tumpuan utama.
6)
Metode Membaca
Metode
membaca bertujuan agar siswa mempunyai kemampuan memahami teks bacaan yang
diperlukan dalam belajar siswa.
Berikut langkah-langkah metode membaca:
1)
pemberian
kosakata dan istilah yang dianggap sukar dari guru ke siswa. Hal
ini diberikan dengan definisi dan contoh ke dalam kalimat
2)
Penyajian bacaan di kelas. Bacaan dibaca
dengan diam selama 10-15 menit (untuk mempercepat waktu, bacaan dapat diberikan
sehari sebelumnya)
3)
Diskusi
isi bacaan dapat melalui tanya jawab
4)
Pembicaraan
tata bahasa dilakukan dengan singkat. Hal itu dilakukan jika dipandang perlu
oleh guru
5)
Pembicaraan kosakata yang
relevan
6)
Pemberian tugas seperti
mengarang (isinya relevan dengan bacaan) atau membuat denah, skema, diagram,
ikhtisar, rangkuman, dan sebagainya yang berkaitan dengan isi bacaan.
7)
Metode Tematik
Dalam metode tematik,
semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam
satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah bahwa tema bukanlah tujuan tetapi
alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus
diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, konkret, dan
konseptual.
Tema yang telah ditentukan
haruslah diolah dengan perkembangan lingkungan siswa yang terjadi saat ini.
Begitu pula isi tema disajikan secara kontemporer sehingga siswa senang. Apa
yang terjadi sekarang di lingkungan
siswa juga harus terbahas dan terdiskusikan di kelas. Tema tidak disajikan
secara abstrak tetapi diberikan secara konkret. Semua siswa dapat mengikuti
proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Konsep-konsep dasar tidak
terlepas. Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep
kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
8)
Metode Kuantum
Quantum
Learning (QL) merupakan metode pendekatan belajar yang bertumpu dari metode
Freire dan Lozanov. QL mengutamakan pecepatan belajar dengan cara partisipatori
peserta didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. Gaya
belajar dengan mengacu pada otak kanan dan otak kiri menjadi ciri khas QL.
Menurut QL bahwa proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala
sesuatu dapat berarti setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi, serta
sejauh mana guru menggubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran
maka sejauh itulah proses belajar berlangsung. Hubungan dinamis dalam
lingkungan kelas merupakan landasan dan kerangka untuk belajar. Dengan begitu, pembelajar dapat mememori, membaca,
menulis, dan membuat peta pikiran dengan cepat.
9)
Metode Diskusi
Diskusi adalah proses
pembelajaran melalui interaksi dalam kelompok. Setiap anggota kelompok saling
bertukar ide tentang suatu isu dengan tujuan untuk memecahkan suatu
masalah,menjawab suatu pertanyaan, menambah pengetahuan atau pemahaman, atau
membuat suatu keputusan. Apabila proses diskusi melibatkan seluruh anggota
kelas, pembelajaran dapat terjadi secara
langsung dan bersifat student centered (berpisat pada siswa) Dikatakan
pembelajaran langsung karena guru menentukan tujuan yang harus dicapai melalui
diskusi, mengontrol aktivitas siswa serta
menentukan fokus dan keberhasilan pembelajaran. Dikatakan berpusat
kepada siswa karena sebagian besar input pembelajaran berasal dari
siswa, mereka secara aktif aktif dan meningkatkan belajar, serta mereka dapat
menemukan hasil diskusi mereka.
10) Metode Kerja Kelompok Kecil (Small-Group
Work)
Mengorganisasikan
siswa dalam kelompok kecil merupakan metode yang banyak dianjurkan oleh para
pendidik. Metode ini dapat dilakukan untuk mengajarkan materi-materi khusus.
Kerja kelompok kecil merupakan metode pembelajaran yang berpusat kepada siswa.
Siswa dituntut untuk memperoleh pengetahunan sendiri melalui bekerja secara
bersama-sama. Tugas guru hanyalah memonitor apa yang dikerjakan siswa. Yang
ingin diperolah melalui kerja kelompok adalah kemampuan interaksi sosial, atau
kemampuan akademik atau mungkin juga keduanya.
3. Jenis-Jenis
Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia
1) Strategi Pembelajaran Langsung (Direct
Instruction)
Pembelajaran langsung
adalah istilah yang sering digunakan untuk teknik pembelajaran ekspositoris,
atau teknik penyampaian semacam kuliah (sering juga digunakan istilah “chalck
and talk”).
Strategi pembelajaran
langsung, merupakan bentuk dan pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada
guru (teacher centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam
staretgi ini guru memegang peran yang sangat dominan. Melalui strategi ini guru
menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur. Diharapkan, apa yang
disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Fokus utama strategi ini
adalah kemampuan akademik (academic achievement) siswa. Metode
pembelajaran dengan kuliah dan demonstrasi, merupakan bentuk-bentuk strategi
pembelajaran langsung.
2) Strategi
Pembelajaran Cooperative Learning
Cooperative
Learning adalah strategi pembelajaran yang menekankan
kepada proses kerja sama dalam suatu kelompok yang bias terdiri atas 3 sampai 5
orang siswa untuk mempelajari suatu materi akademik yang spesifik sampai
tuntas. Strategi pembelajaran Cooperative Learning mulai populer
akhir-akhir ini. Melalui Cooperative Learning siswa didorong untuk bekerja sama secara
maksimal sesuai dengan keadaan kelompoknya. Kerja sama di sini dimaksudkan
setiap anggota kelompok harus saling bantu. Yang cepat harus membantu yang
lambat karena penilaian akhir ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Kegagalan individu adalah kegagalan
kelompok: dan sebaliknya keberhasilan individu adalah keberhasilan kelompok.
Oleh karena itu, setiap anggota harus memiliki tanggung jawab penuh terhadap
kelompoknya. Beberapa penulis seperti Slavin, Johnson, & Johnson,
mengatakan ada komponen yang sangat penting dalam strategi pembelajaran cooperative
yaitu kooperatif dalam mengerjakan tugas-tugas dan kooperatif dalam memberikan
dorongan atau motivasi.
Slavin, Abrani, dan
Chambers (1996) berpendapat bahwa belajar bahwa belajar melalui kooperatif
dapat dijelaskan dari bebrapa perspektif, yaitu perspektif social, perspektif
perkembangan kognitif dan perspektif elaborasi kognitif. Perspektif motivasi,
artinya bahwa penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap
anggota kelompok akan saling membantu. Dengan demikian keberhasilan setiap
indivindu pada dasarnya adalah keberhasilan kelompok. Hal semacam ini akan
mendorong setiap anggota kelompok untuk memperjuangkan keberhasilan
kelompoknya.
Perspektif sosial
artinya bahwa melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam
belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh
keberhasilan. Bekerja secara tim dengan mengevaluasi keberhasilan sendiri oleh
kelompok, merupakan iklim yang bagus, di mana setiap anggota kelompok
menginginkan semuanya memperoleh keberhasilan.
Perspektif
perkembangan kognitif artinya bahwa dengan adanya interaksi antara anggota
kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai
informasi. Elaborasi kognitif, artinya bahwa setiap siswa akan berusaha untuk
memahami dan menimba informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya.
3)
Strategi Pembelajaran Problem
Solving
Mengajar memecahkan
masalah berbeda dengan penggunaan pemecahan masalah sebagai suatu strategi
pembelajaran. Mengajar memecahkan masalah adalah mengajar bagaimana siswa
memecahkan suatu persoalan, misalkan memecahkan soal-soal matematika. Sedangkan
strategi pembelajaran pemecahan masalah adalah teknik untuk membantu siswa agar
memahami dan menguasai materi pembelajaran dengan menggunakan strategi
pemecahan masalah. Dengan demikian perbedaan keduanya terletak pada kedudukan
pemecahan masalah itu. Dengan demikian perbedaan keduanya terletak pada
kedudukan pemecahan masalah itu, Mengajar memecahkan masalah berarti pemecahan
masalah itu sebagai isi atau content dari pelajaran: sedangkan pemecahan
masalah adalah sebagai suatu strategi. Jadi, kedudukan pemecahan masalah hanya
sebagai suatu alat saja untuk memahami materi pembelajaran.
Ada
beberapa ciri strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah, pertama, siswa
bekerja secara individual atau bekerja dalam kelompok kecil: kedua,
pembelajaran ditekankan kepada materi pelajaran yang mendukung
persoalan-persoalan untuk dipecahkan; dan lebih disukai persoalan yang banyak
kemungkinan cara pemecahanya; ketiga, siswa mnggunakan banyak pendekatan dalam
belajar; keempat, hasil dari pemecahan maslah adalah tukar pendapat ( sharing
) di antara semua siswa.
4) Strategi
Mengulang
Strategi mengulang
sederhana digunakan untuk sekadar membaca ulang materi tertentu hanya untuk menghafal
saja. Contoh lain dari strategi sederhana adalah menghafal nomor telepon, arah
tempat, waktu tertentu, daftar belanjaan, dan sebagainya. Memori yang sudah ada
di pikiran dimunculkan kembali untuk kepentingan jangka pendek, seketika, dan
sederhana.
Penyerapan bahan
belajar yang lebih kompleks memerlukan strategi mengulang kompleks.
Menggarisbawahi ide-ide kunci, membuat catatan pinggir, dan menuliskan kembali
inti informasi yang telah diterima merupakan bagian dari mengulang kompleks.
Strategi tersebut tentunya perlu diajarkan ke siswa agar terbiasa dengan cara
demikian.
5) Strategi
Elaborasi
Strategi elaborasi
adalah proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih
bermakna. Dengan strategi elaborasi, pengkodean lebih mudah dilakukan dan lebih
memberikan kepastian. Strategi elaborasi membantu pemindahan informasi baru
dari memori di otak yang bersifat jangka pendek ke jangka panjang dengan
menciptakan hubungan dan gabungan antara informasi baru dengan yang pernah ada.
Beberapa bentuk
strategi elaborasi adalah pembuatan catatan, analogi, dan PQ4R. Pembuatan
catatan adalah strategi belajar yang menggabungkan antara informasi yang
dipunyai sebelumnya dengan informasi baru yang didapat melalui proses mencatat.
Dengan mencatat, siswa dapat menuangkan ide baru dari percampuran dua informasi
itu.
Analogi merupakan
cara belajar dengan pembandingan yang dibuat untuk menunjukkan persamaan antara
ciri pokok benda atau ide, misalnya otak kiri mirip dengan komputer yang
menerima dan menyimpan informasi.
P4QR merupakan
strategi yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca.
P4QR singkatan dar Preview (membaca selintas dengan cepat), Question
(bertanya), dan 4R singkatan dari read, reflect, recite, dan review atau
membaca, merefleksi, menanyakan pada diri sendiri, dan mengulang secara
menyeluruh. Strategi PQ4R merupakan strategi belajar elaborasi yang terbukti
efektif dalam membantu siswa menghafal informasi bacaan.
6) Strategi
Organisasi
Strategi
organisasi membantu pelaku belajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru
dengan struktur pengorganisasian baru. Strategi organisasi terdiri atas
pengelompokan ulang ide-ide atau istilah menjadi subset yang lebih kecil.
Strategi tersebut juga berperan sebagai
pengindentifikasian ide-ide atau fakta kunci dari sekumpulan informasi yang
lebih besar. Bentuk strategi organisasi adalah Outlining, yakni membuat garis
besar. Siswa belajar menghubungkan berbagai macam topik atau ide dengan
beberapa ide utama.
Mapping, yang lebih
dikenal dengan pemetaan konsep, dalam beberapa hal lebih efektif daripada
outlining. Mnemonics membentuk kategori khusus dan secara teknis dapat
diklasifikasikan sebagai satu strategi, elaborasi atau organisasi. Mnemonics
membantu dengan membentuk asosiasi yang secara alamiah tidak ada yang membantu
mengorganisasikan informasi menjadi memori kerja. Strategi Mnemonics terdiri
atas pemotongan, akronim, dan kata berkait.
BAB III
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA
- Metode yang Sesuai dengan Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia
1. Metode yang Sesuai dengan Materi Pembelajaran
Mendengarkan di SD
Belajar berbahasa dimulai dengan
mendengarkan, coba perhatikan bagaimana anak kecil belajar bahasa ibunya.
Mula-mula yang bersangkutan banyak mendengar rangkaian bunyi bahasa. Bunyi
bahasa itu dikaitkan dengan makna. Setelah banyak mendengarkan ia mulai meniru
ucapan-ucapan yang pernah didengarnya dan kemudian mencoba menerapkannya dalam
pembicaraan. Proses mendengarkan, mengartikan makna, dan mempraktekkan bunyi
bahasa itu dilakukannya berulang-ulang sampai akhirnya yang bersangkutan lancar
berbicara.
Melalui
proses mendengarkan, orang dapat menguasai pengucapan fonem, kosakata, dan
kalimat. Pemahaman terhadap fonem, kata, dan kalimat ini sangat membantu yang
bersangkutan dalam kegiatan berbicara, membaca, dan menulis. Petunjuk-petunjuk
dalam belajar berbicara, membaca, atau menulis selalu disampaikan melalui
bahasa lisan. Ini berarti bahwa keterampilan mendengarkan memang benar-benar
menunjang keterampilan berbicara, membaca, dan menulis.
Berdasarkan standar kompetensi mata
pelajaran bahasa Indonesia di SD untuk materi pembelajaran mendengarkan siswa
diharapkan mampu:
mendengarkan dongeng, wacana lisan tentang deskripsi benda, teks pendek, puisi
anak lisan, pesan pendek, cerita anak, cerita teks drama, petunjuk denah,
pengumuman, pembacaan pantun, narasumber, cerita rakyat, cerpen anak, dan
berita (Permendiknas No. 22 th. 2006 tentang Standar Isi, 319-330).
Guru bahasa Indonesia di SD harus berupaya
agar pengajaran mendengarkan disenangi oleh siswa. Hal ini dapat terlaksana
apabila guru benar-benar menguasai materi dan cara atau metode pengajaran
mendengarkan. Khusus dalam metode pengajaran mendengarkan tersebut guru harus
mengenal, memahami, menghayati, serta dapat mempraktikkan berbagai cara pengajaran mendengarkan. Metode pengajaran mendengarkan
yang dapat diterapkan untuk pembelajaran bahasa Indonesia di SD antara lain:
1). Metode Audiolingual
2). Metode Komunikatif
3). Metode Integratif
Dari metode di atas ada beberapa teknik
pembelajaran mendengarkan yang dapat diterapkan di SD, antara lain:
a)
Mendengarkan Cerita
Tujuan: Siswa dapat memaknai dengan cermat,
cepat, dan tepat tentang cerita yang didengarnya. Siswa mendengarkan cerita
yang diputar atau dilisankan.
Alat yang digunakan: Kaset cerita dan tape recorder.
(Kegiatan teknik pembelajaran ini
dapat dilaksanakan secara perseorangan maupun kelompok)
Cara pelaksanaan: (1) guru memberikan pengantar singkat
tentang pelaksanaan teknik pembelajaran hari itu, (2) putarkanlah kaset cerita
yang cocok dengan siswa, (3) siswa mendengarkan cerita yang diputar tersebut,
(4) siswa secara berkelompok mengidentifikasikan cerita berdasarkan tempat,
pelaku (siapa dengan siapa), waktu, tentang apa, mengapa, bagaimana, dan
bermakna apa, (5) siswa mendiskusikan hasil identifikasi ke dalam kelompok, (6)
siswa melaporkan hasil diskusi tersebut di depan kelas dan kelompok lain
memberikan penilaian, (7) siswa menyimpulkan dan merefleksi pembelajaran yang
mereka lakukan pada hari itu.
b)
Mendengarkan Berantai
Tujuan: Siswa dapat memahami informasi yang
dibisikkan oleh temannya dengan cermat, cepat, dan tepat. Siswa mendengarkan
informasi yang disampaikan teman kemudian menyampaikan informasi yang didengar
ke teman sebelahnya secara berantai dalam kelompok.
Alat yang digunakan: Catatan informasi singkat, panjang,
dan tidak beraturan (ada tiga catatan informasi yang direkayasa).
(Kegiatan teknik pembelajaran ini
dapat dilaksanakan secara kelompok)
Cara pelaksanaan: (1) guru memberikan pengantar singkat
tentang pelaksanaan teknik pembelajaran hari itu, (2) siswa dibagi ke dalam
beberapa kelompok dengan anggota per kelompok sama jumlahnya, (3) siswa dalam
kelompok diatur dengan berjajar ke samping atau ke belakang, (4) setelah posisi
siswa sesuai dengan yang diharapkan, guru memanggil siswa yang paling depan
atau paling kanan/kiri untuk membaca catatan informasi yang ditunjukkan guru
secara rahasia, (5) siswa yang menerima informasi tersebut secara cepat
membisikkan informasi ke teman belakangnya atau sampingnya (berdasarkan posisi
kelompok), (6) secara berantai siswa membisikkan ke teman berikutnya secara
bergantian, (7) siswa yang paling belakang mengucapkan dengan keras informasi
yang diterimanya dari teman depannya, (8) siswa depan mencocokkan dengan
informasi yang asli (9) berikutnya, guru dapat mengulang dengan informasi yang
berjenis-jenis (beberapa informasi) ke dalam satu kelompok secara bertahap,
(10) siswa menyimpulkan tentang kegiatan yang baru mereka laksanakan dan
merefleksi pembelajaran yang mereka lakukan pada hari itu.
2. Metode
yang Sesuai dengan Materi Pembelajaran Berbicara di SD
Dalam
kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan dengan berbagai kegiatan yang
menuntut keterampilan berbicara. Dialog dalam lingkungan keluarga antara anak
dan orang tua, antara ayah dan ibu antara anak-anak, menuntut keterampilan
berbicara. Di luar lingkungan keluarga juga terjadi percakapan, diskusi, di
antara teman dengan teman, tetangga dengan tetangga, kawan sepermainan, rekan
sekerja, teman satu sekolah, dan sebagainya. Dari semua situasi di atas
dituntut keterampilan berbicara setiap individu yang ikut berpartisipasi.
Sebagai anggota masyarakat setiap individu dituntut terampil berkomunikasi.
Terampil menyatakan pikiran, gagasan, ide, perasaan, dan pikiran. Juga individu
itu terampil pula menangkap informasi yang diterimanya. Kesimpulannya setiap
individu harus terampil menyampaikan informasi dan terampil pula menerima
informasi.
Berdasarkan standar kompetensi mata
pelajaran bahasa Indonesia di SD untuk materi pembelajaran berbicara siswa diharapkan mampu mengungkapkan
pikiran, perasaan, dan informasi secara lisan dengan: perkenalan, tegur sapa,
pengenalan benda, fungsi anggota tubuh,
deklamasi, gambar,
percakapan sederhana, dongeng, kegiatan bertanya, bercerita, mendeskripsikan
benda, memberikan tanggapan/saran, bertelepon,
mendeskripsikan secara lisan tempat sesuai denah, petunjuk penggunaan suatu alat, berbalas
pantun, bertelepon, menceritakan hasil pengamatan, berwawancara, diskusi, bermain
drama, berpidato, melaporkan isi buku, dan baca puisi (Permendiknas No. 22 th.
2006 tentang Standar Isi, 319-330).
Pengajaran berbicara di SD harus
dilaksanakan sebaik-baiknya melalui materi pokok yang ada. Karena itu guru
bahasa Indonesia di SD harus mengenal, mengetahui, menghayati dan dapat
menerapkan berbagai metode, teknik atau cara mengajarkan keterampilan
berbicara, sehingga pengajaran berbicara menarik, merangsang, bervariasi, dan
menimbulkan minat belajar berbicara bagi siswa. Metode pengajaran berbicara
yang dapat diterapkan untuk pembelajaran bahasa Indonesia di SD antara lain:
1) Metode Audiolingual
2) Metode Produktif
3) Metode Langsung
4) Metode
Komunikatif
5) Metode
Integratif
6) Metode
Partisipatori.
Dari metode di atas ada beberapa teknik
pembelajaran berbicara yang
dapat diterapkan di SD, antara lain:
a)
Bermain Peran
Tujuan: Siswa
dapat memerankan tokoh tertentu dengan ucapan yang tepat. Siswa menirukan gaya
tokoh yang diidentifikasikan dengan ucapan yang mirip atau sama.
Alat yang diperlukan: Lembar folio kosong.
(Kegiatan dilakukan
secara perorangan).
Cara menerapkan: (1) guru memberikan penjelasan singkat
tentang kegiatan hari itu, (2) siswa membagi diri ke dalam kelompok, (3) siswa
mengidentifikasikan tokoh yang akan diperankan, (4) siswa memerankan tokoh di
depan kelompok lain, (5) kelompok lain memberi komentar tentang peran dari
anggota kelompok lain, (6) guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.
b)
Cerita Berangkai
Tujuan:
Siswa dapat melanjutkan cerita yang disampaikan temannya dengan tepat dan dalam
lingkup topik yang sama. Satu kelompok (5 orang) berdiri di depan kelas
kemudian bercerita tentang topik tertentu yang diawali dari kiri ke kanan atau
dari kanan ke kiri.
Alat yang diperlukan: Buku catatan
(Kegiatan dilakukan
secara perorangan).
Cara menerapkan: (1) guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu, (2) siswa
membagi kelompok, (3) kelompok menentukan topik yang akan dibawakan di depan
kelas, (4) siswa bercerita secara berangkai di depan kelas, (5) kelompok lain
memberi komentar tentang cerita berangkai temannya, (6) guru merefleksikan
hasil pembelajaran hari itu.
c)
Menerangkan
Obat/Makanan/Minuman/Benda Lainnya
Tujuan: Siswa dapat menjelaskan sesuatu secara runtut dan benar.
Siswa menerangkan sebuah benda yang sudah mereka kenal. Dalam waktu singkat mereka
menerangkan mengenai karakter benda tersebut. Benda dapat berupa minuman,
obat-obatan, makanan, tas, sepatu, dan lain-lain.
Alat yang diperlukan:
Botol obat, botol minuman, makanan
instant, tas, bolpoint, dan lain-lain.
(Kegiatan dilakukan
secara kelompok).
Cara menerapkan: (1) guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu, (2) siswa
mengambil benda yang mereka kenal, (3) dalam waktu dua menit, secara bergantian
siswa menerangkan karakteristik benda yang mereka bawa ke dalam kelompok, (4)
siswa lain memberi komentar tentang penjelasan temannya, (50 siswa
merefleksikan proses pembelajaran yang mereka alami, (6) guru merefleksikan
hasil pembelajaran hari itu.
3. Metode yang
Sesuai dengan Materi Pembelajaran Membaca di SD
Pengembangan keterampilan membaca pertama-tama dibebankan kepada guru
bahasa Indonesia SD. Melalui pengajaran bahasa Indonesia, guru harus
mengarahkan siswanya agar dapat:
1)
membaca atau melek huruf
2)
memahami pengertian dan
peranan membaca
3)
memahami teori dasar membaca
4)
memiliki minat baca
5)
memiliki keterampilan
membaca
Berdasarkan standar kompetensi mata
pelajaran bahasa Indonesia di SD untuk materi pembelajaran membaca siswa diharapkan mampu: memahami teks
dengan membaca nyaring, membaca lancar, membaca
puisi anak, membaca dalam hati, membaca
intensif, membaca dongeng, memahami teks
dengan membaca intensif (150-200 kata), membaca puisi, memahami teks agak panjang
(150-200 kata), petunjuk pemakaian, makna kata dalam kamus/ensiklopedi, membaca
pantun, membaca teks percakapan, membaca cepat 75 kata/menit, dan membaca puisi,
membaca sekilas, membaca memindai, membaca cerita anak, dan membaca teks drama (Permendiknas No. 22 th. 2006 tentang Standar Isi, 319-330).
Guru harus berupaya agar pengajaran
membaca disukai oleh siswa. Hal ini dapat terlaksana apabila guru telah
menguasai materi dan cara penyampaian materi. Dalam segi penyampaian materi
guru harus sudah mengenal, memahami, menghayati, dan dapat menerapkan berbagai
metode pengajaran membaca. Metode pengajaran membaca yang dapat diterapkan
untuk pembelajaran bahasa Indonesia di SD antara lain:
1) Metode Membaca
2) Metode Komunikatif
3) Metode Integratif
4) Metode Tematik
5) Metode Kuantum
6) Metode Partisipatori
Dari metode di atas ada beberapa teknik
pembelajaran membaca yang dapat
diterapkan di SD, antara lain:
a) Mengubah Bacaan ke dalam Gambar
Tujuan: Siswa dapat memaknai bacaan dengan cara membuat gambar
menurut persepsinya. Siswa membaca sebuah bacaan. Kemudian, siswa membuat
gambar yang dapat menampung isi bacaan.
Alat yang
digunakan: Teks bacaan dan alat tulis menulis.
(Kegiatan tersebut
dapat dilakukan perseorangan maupun kelompok).
Cara menerapkan: (1) guru memberikan pengantar mengenai teknik
pembelajaran mengubah bacaan ke dalam gambar, (2) guru membagikan teks bacaan
kepada masing-masing siswa, (3) siswa mulai membaca, setelah itu langsung menuangkan
ke dalam gambar, (4) siswa memberikan makna gambar tersebut, (5) siswa
mempresentasikan hasil pemaknaan yang mereka buat, (6) siswa lain mengomentari
presentasi temannya, (7) guru memberikan refleksi hasil pembelajaran hari itu.
b) Membaca
Bergantian
Tujuan: Tujuan teknik
pembelajaran membaca bergantian adalah agar siswa dapat membaca bersuara
sesuai dengan intonasi dan lafal dengan tepat. Siswa dengan bersuara membaca
tiap paragraf secara bergantian dengan pasangannya.
Alat yang diperlukan: Teks bacaan.
(Kegiatan ini
dilakukan secara berpasangan).
Cara menerapkan: (1) guru memberikan penjelasan singkat
tentang pembelajaran hari itu, (2) guru mengajak siswa untuk berpasangan, (3)
siswa membuka buku bacaan dan membaca pada bab yang sudah ditentukan dengan
bersuara, (4) siswa (pasangannya) menyimak dan memberikan penilaian kepada
pasangannya yang sedang membaca, (5) siswa saling berdiskusi mengenai
kekurangan masing-masing baik intonasi dan lafal dalam membaca, (6) siswa
mengomentari hasil pembelajaran tersebut, (7) guru merefleksikan kegiatan hari
itu.
c) Membaca
Memindai
Tujuan: Siswa
dapat menemukan secara cepat kata, nomor, lambang, dan apa saja yang dibutuhkan
dari daftar panjang, pengumuman, iklan, daftar telepon, dan nomor acak. Siswa
dalam melakukan kegiatan membaca disuruh menemukan nomor, gambar, atau kata yang
dianggap penting.
Alat yang digunakan: Daftar kata, nomor, gambar, atau simbol.
(Kegiatan dilakukan
secara perorangan).
Cara menerapkan: (1) guru memberikan sedikit pengantar tentang
teknik membaca memindai, (2) guru memberikan daftar kata, nomor, atau simbol
(pilih salah satu), (3) siswa mengidentifikasi daftar sambil memberi tanda
garis bawah pada yang dianggap penting berdasarkan pertanyaan yang diberikan,
misalnya cari nomor telepon 4266532, (4)
siswa melaporkan hasilnya di depan kelas, (5) siswa lain mengomentari hasil
presentasi temannya, (6) guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.
d) Membaca
Ekstensif
Tujuan: Siswa dapat mengintegrasikan isi
bacaan dari berbagai bacaan dalam topik yang sama. Siswa menjelaskan inti bacaan
menurut persepsinya masing-masing setelah membaca topik yang sama dari berbagai
bacaan (koran, majalah, buku teks, dan buku pengetahuan tentang topik yang
sama).
Alat yang digunakan: Berbagai macam bacaan yang berbeda-beda dalam topik yang
sama.
Cara menerapkannya: (1) guru memberikan penjelasan mengenai
teknik pembelajaran membaca ekstensif, (2) guru memberikan masing-masing siswa
bacaan dengan topik yang sama, antara siswa yang satu dengan yang lain tetapi
berbeda sumber (ada yang dari koran, majalah, dsb), (3) dalam waktu tertentu bacaan secara
bergilir saling dipertukarkan, (4) siswa memberikan penjelasan inti dari
masing-masing bacaan yang mereka baca, (5) siswa lain memberikan tanggapan
mengenai penjelasan temannya, (6) guru memberikan refleksi kegiatan hari itu.
4. Metode yang
Sesuai dengan Materi Pembelajaran Menulis di SD
Hasil berbagai
penelitian menunjukkan bahwa kegiatan menulis paling kecil bila dibandingkan
dengan kegiatan menyimak, berbicara, atau membaca. Urutan anak-anak yang
belajar berbahasa selalu mulai menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam
literatur pengajaran bahasa pun urutan keempat keterampilan selalu ditulis
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Walaupun posisi menulis selalu di belakang tidak berarti peranan menulis
juga di belakang atau kecil. Berbagai aktivitas orang terpelajar menunjukkan
bahwa peranan menulis cukup penting dalam kehidupan manusia modern.
Di sekolah pihak yang paling
berkompeten menumbuhkan keterampilan menulis itu adalah guru bahasa Indonesia.
Mereka harus melatih anak didiknya agar terampil menulis. Lebih-lebih guru
bahasa Indonesia di SD harus dapat menumbuhkan keterampilan menulis ini pada
setiap siswa.
Berdasarkan standar kompetensi mata
pelajaran bahasa Indonesia di SD untuk materi pembelajaran menulis siswa diharapkan mampu: menulis permulaan dengan menjiplak, menebalkan, mencontoh, melengkapi. Menyalin huruf tegak bersambung melalui kegiatan dikte. Menyalin melalui kegiatan melengkapi cerita dan dikte. Mendeskripsikan benda di sekitar dan
menyalin puisi anak.
Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi
dalam bentuk paragraf dan puisi dalam karangan sederhana dan puisi. Menulis
dalam bentuk percakapan, petunjuk,
cerita, dan surat. Menulis pengalaman
secara tertulis dalam bentuk
karangan, surat undangan, dan dialog
tertulis bentuk ringkasan, laporan, dan
puisi bebas informasi secara tertulis dalam bentuk formulir, ringkasan,
dialog, dan parafrase naskah
pidato dan surat resmi (Permendiknas No. 22 th. 2006 tentang
Standar Isi, 319-330).
Guru harus berupaya agar
pengajaran menulis disukai oleh siswa. Hal ini dapat terlaksana apabila guru
telah menguasai materi dan cara penyampaian materi. Dalam segi penyampaian
materi guru harus sudah mengenal, memahami, menghayati, dan dapat menerapkan
berbagai metode pengajaran menulis. Metode pengajaran menulis yang dapat
diterapkan untuk pembelajaran bahasa Indonesia di SD antara lain:
1). Metode
Produktif
2). Metode
Komunikatif
3). Metode
Integratif
4). Metode
Tematik
5). Metode
Kuantum
6). Metode
Partisipatori
7). Metode
Konstruktif.
Dari metode di atas ada
beberapa teknik pembelajaran berbicara
yang dapat diterapkan di SD, antara lain:
a) Menulis
dari Gambar
Teknik
pembelajaran menulis dari gambar bertujuan agar siswa dapat menulis dengan
cepat berdasarkan gambar yang dilihat. Misalnya, guru menunjukkan gambar
kebakaran yang melanda sebuah desa. Dari gambar tersebut siswa dapat membuat
tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar. Alat yang dibutuhkan adalah
gambar-gambar yang bervariasi sesuai dengan tema pembelajaran, yang berukuran
sama dengan kalender besar. Teknik ini dapat dijalankan secara perseorangan
maupun secara kelompok.
Cara
menerapkan: (1)
guru menyampaikan pengantar, (2) guru menempelkan beberapa gambar di depan
kelas, (3) setelah siswa melihat gambar tersebut, siswa mulai mengidentifikasi
gambar dan dari identifikasi itu siswa membuat tulisan secara runtut dan logis,
(4) guru bertanya kepada siswa tentang alasan tulisan yang dibuatnya, dan (5)
guru merefleksikan pembelajaran tersebut.
Upayakan
gambar yang disajikan sesuai dengan tema pembelajaran yang dipelajari pada
minggu itu. Guru dapat memilih gambar yang cocok dengan karakteristik kelas.
Gambar yang telah digunakan siswa dapat ditarik kembali untuk bahan
pembelajaran berikutnya.
b) Menulis
Objek Langsung
Tujuan: Agar
siswa dapat menulis dengan cepat berdasarkan objek yang dilihat. Guru
menunjukkan objek kepada siswa di depan kelas, misal boneka, vas bunga, mobil-mobilan,
dan lain-lain. Dari objek tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut
dan logis berdasarka objek yang dilihatnya. Alat yang dibutuhkan adalah
objek-objek yang bervariasi sesuai dengan tema pembelajaran. Teknik ini dapat
dijalankan secara perseorangan maupun secara berkelompok.
Cara
menerapkan: (1) guru menyampaikan
pengantar, (2) guru memajang beberapa objek di depan kelas, (3) setelah siswa
melihat objek tersebut, siswa mulai mengidentifikasi objek, (4) siswa membuat
tulisan secara runtut dan logis, (5) guru bertanya kepada siswa tentang alasan
tulisan yang dibuatnya, dan (6) guru merefleksikan pembelajaran tersebut.
c) Pembandingan
Objek Langsung
Teknik
pembelajaran ini bertujuan agar siswa dapat menulis perbandingan
berdasarkan objek yang dilihat. Misalnya, guru menunjukkan dua benda (objek)
yang sama tetapi berbeda bentuk, warna, fungsi, dan lain-lain. Siswa menulis
dengan cara membandingkan dua objek yang telah diidentifikaikannya. Dari objek
tersebut siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan objek
yang dilihat.
Alat
yang dibutuhkan adalah benda-benda yang bervariasi sesuai denga tema
pembelajaran. Teknik ini dapat dijalankan baik perorangan maupun kelompok.
Cara
menerapkan: (1) Guru menyampaikan pengantar, (2) guru memajang dua
benda (objek) yang sama namun lain
warna, fungsi, bentuk, dan lain-lain di depan kelas, (3) setelah siswa melihat
objek tersebut, siswa mulai mengidentifikasi objek, (4) siswa menulis
perbandingan secara runtut dan logis, (5) guru bertanya kepada siswa tentang
alasan tulisan yang dibuatnya. (6) guru merefleksikan pembelajaran tersebut.
d) Meneruskan
Tulisan
Dari teknik pembelajaran meneruskan
tulisan, diperoleh kemampuan siswa dalam melengkapi ide atau gagasan secara
baik dalam sebuah tulisan melalui penambahan beberapa paragraf. Dalam proses
melengkapi tersebut, siswa beada dalam kondisi senang, ceria, dan penuh dengan
tantangan dalam komunitas belajar yang kompetitif.
Alat
yang digunakan adalah lembaran fotokopi tulisan yang belum selesai
gagasannya, (tulisan tersebut semestinya 10 paragraf tetapi yang 3 paragraf
terakhir dibuang) kemudian siswa menambahkan paragraf sesuai dengan idenya.
Fotokopi sesuai dengan jumlah siswa. Pelaksanaan teknik ini dapat berupa
perseorangan atau kelompok.
Biasakan
sebelum memulai, siswa dikondisikan melalui kegiatan persepsi lewat berbagai
cara, misalnya nyanyian, puisi, permainan, dan gerakan. Dalam pelaksanaan
teknik ini (1) guru memberikan persepsi atau pengantar, (2) bagi kelompok
(kalau penerapannya dalam kelompok), (3) guru memberikan rambu-rambu
pelaksanaan, (4) guru memberikan lembar fotokopi kepada siswa, (5) setelah
diberi waktu dan aba-aba, siswa mengerjakan tugas berupa meneruskan tulisan
yang belum selesai dengan idenya sendiri, (6) setelah waktu yang diberikan
habis, siswa melaporkan hasilnya di depan kelas, (7) guru bertanya kepada siswa
alasan tulisan tersebut, dan (8) guru merefleksikan hasil kegiatan tersebut.
- Penerapan Metode dalam Menyusun Rancangan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk satuan
pendidikan dasar dan menengah, dinyatakan bahwa RPP dijabarkan dari silabus
untuk mengarahkan kegiatan belajar
peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap
guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar
pembelajaran berlangsung secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan
bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik.
RPP disusun untuk setiap KD yang
dapat dilaksanakan dalam satu kali
pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan
RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan
pendidikan.
Komponen RPP terdiri dari: Identitas mata
pelajaran, standar kompetensi,
kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran,
materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran
(pendahuluan, inti, penutup), penutup, dan penilaian hasil belajar, dan sumber
belajar.
Contoh RPP:
Disusun
Oleh: Teuku Alamsyah, M. Pd.
|
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
|
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : V
Semester : 1
Waktu : 2 x 35
menit (1 x Pertemuan)
Topik : Cerita Rakyat Tanah Gayo
A. Standar Kompetensi
Memahami
penjelasan narasumber dan cerita rakyat secara lisan
B. Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi
unsur cerita tentang cerita rakyat yang didengarnya.
C. Indikator
Setelah
mempelajari topik ini siswa diharapkan dapat:
1. Menentukan tema cerita Putri Pukes.
2. Menentukan amanat cerita Putri Pukes.
3.
Menyebutkan tokoh-tokoh cerita dalam cerita
rakyat Putri Pukes.
4.
Mengidentifikasi setting cerita (setting
tempat dan setting waktu) dalam cerita Putri Pukes.
5. Menuliskan kembali isi cerita Putri Pukes dengan kata-kata sendiri.
D. Konsep yang perlu dikuasai siswa
·
Tema cerita
·
Amanat cerita
·
Tokoh dan penokohan dalam cerita
·
Setting cerita
·
Menggunakan tanda baca yang tepat dan kalimat
yang runtut ketika menulis
E.
Nilai yang Diintegrasikan
1.
Nilai Imtaq
·
Nilai-nilai religius yang berkembang di suatu
daerah sebagaimana terungkap dalam
tema dan amanat cerita.
2.
Keragaman Budaya dan Kebajikan Lokal
·
Menghargai Keragaman Budaya di daerah lain,
seperti: (1) adat perkawinan dan (2) situs budaya,
F. Pendekatan/Metode Pembelajaran:
Pendekatan
: Kontekstual
Metode : Audiolingual
Integratif
Diskusi
G. Materi Pembelajaran
1)
Ringkasan Cerita Putri Pukes
Tersebutlah di Tanah Gayo seorang
putri yang bernama Pukes. Putri ini lazim disapa Putri Pukes. Putri Pukes sejak
kecil hidup bahagia bersama kedua orang tuanya di sebuah rumah adat gayo.
Ketika menginjak usia dewasa, Putri
Pukes telah menjadi gadis yang cantik jelita, bertabiat santun, dan
penuh pengabdian kepada kedua orang tuanya. Sebuah keluarga di kampong tetangga
mendengar berita tentang Putri Pukes dan dia berniat melamar Putri Pukes untuk
menjadi menantunya. Putri Pukes akan dikawinkannya dengan putranya Banta
Keumari. Datanglah utusan ke rumah orang tua Putri Pukes untuk melamar sang
gadis. Singkat cerita, lamaran diterima dan waktu acara pernikahan pun sudah
ditetapkan.
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu.
Pesta meriah ala Tanah Gayo pun berlangsung. Tetamu datang dari berbagai
penjuru desa. Tidak lupa pula ditampilkan Tari Guel, Tari Reusam Beurume, dan
Tari Putroe Bungsu. Semua tamu merasa terhibur. Acara pesta berlangsung tiga
hari tiga malam.
Esoknya adalah hari yang bersejarah
bagi Putri Pukes. Ia harus rela berpisah dengan kedua orang tuanya, sanak
saudaranya, handai tolan, dan rumahnya tercinta tempat ia mengukir kasih mesra
bersama ayah bunda dan adik-adiknya. Ia harus rela pula berpisah dengan tepian
air tempat ia bermandi sejak kecil hingga ia dewasa. Semua itu harus ia
tinggalkan. Putri Pukes akan mengiringi suaminya hidup bersama mertua di
kampung suaminya. Sulit ia bayangkan kapan ia akan
dapat kembali lagi ke kampung halamannya tercinta. Memang adat negerinya sudah
demikian adanya.
Ketika akan
berangkat meninggalkan rumahnya, ibundanya berpesan, “Wahai anakku Putri Pukes.
Kini engkau telah dewasa, engkau telah bersuami. Kami telah mendidikmu dengan
segenap kemampuan yang ada. Kini tempuhlah hidupmu dan jadilah dirimu sendiri.
Kemesraan yang pernah ada antara kita kini
akan berganti dengan kemesraan dalam bentuk yang lain. Dengarlah
kata-kata suamimu dan berbaktilah padanya sebagaimana layaknya seorang istri.
Janganlah engkau pernah bermasam muka pada suamimu. Semoga engkau menemukan
kebahagiaan dalam hidupmu anakku! Satu lagi pesanku, “Setelah meninggalkan
rumah ini jangan sekalipun engkau menoleh ke belakang. Teruslah berjalan ke
kampong suamimu.
Di tengah
perjalanan batas antara kampungnya dan kampung suaminya, kerinduan Putri Pukes
tak terbendung lagi. Tanpa sadar ia menoleh ke belakang. Tampak olehnya
sayup-sayup atap rumahnya dan tampak pula sepintas pohon Alpukat bergoyang
bersama angin. Namun, tanpa diduga tiba-tiba langit kelam, hujan turun disertai
petir yang menggelegar. Putri Pukes dan suaminya terkesima. Setelah cuaca
bersahabat kembali, Putri Pukes dan suaminya telah menjadi batu dan hingga kini
batu tersebut dapat dijumpai di daerah perbatasan Kota Takengon menuju
Bintang.
(Penulis: Teuku Alamsyah)
2) Kaidah Penggunaan Tanda Baca (tanda titik,
tanda koma, tanda titik dua)
Tanda baca berupa
tanda titik, tanda koma harus digunakan sesuai dengan aturan yang telah
ditetapkan dalam kaidah EYD.
Contoh:
·
Cerita itu sangat menarik.
·
Kita harus patuh, sayang, dan berbakti kepada
kedua orang tua.
3)
Struktur kalimat bahasa Indonesia
Contoh:
·
Putri Pukes menceritakan tentang keadaan
kampung halamannya.
Kalimat
tersebut tergolong sebagai kalimat yang salah strukturnya. Kalimat tersebut
dapat diperbaiki sebagai berikut.
·
Putri Pukes bercerita tentang keadaan kampung
halamannya.
·
Putri Pukes menceritakan keadaan kampung
halamannya.
I. Langkah-langkah Pembelajaran
|
Memperkenalkan
gambaran umum pembelajaran: Mendata Cerita Rakyat di NAD
Membentuk kelompok:
·
Setiap siswa diminta
memilih salah satu potongan karton manila dengan warna yang disenanginya.
Potongan-potongan kertas manila diisi dalam sebuah kotak dan jumlahnya
disesuaikan dengan jumlah siswa.
·
Potongan karton manila
yang telah dipilih tidak boleh diperlihatkan kepada teman sekelas.
·
Setelah semua siswa
mendapat potongan-potongan karton manila, mereka diminta mencari teman yang memilih
potongan karton manila dengan warna yang sama.
·
Setiap siswa diminta
duduk sekelompok dengan teman yang memilih potongan karton manila dengan
warna yang sama.
|
15 Menit
|
|
2)
Kegiatan Inti
|
·
Mendengarkan cerita Putri Pukes yang
diceritakan oleh guru atau diperdengarkan mela lui tape recorder.
·
Cerita diperdengarkan sebanyak dua kali
·
Setiap siswa dalam kelompok
mengidentifikasi tema, amanat, tokoh dan penokohan, serta setting cerita
·
Setiap kelompok berdiskusi dan membuat
simpulan hasil diskusi
·
Setiap kelompok selama 7 menit diminta
mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
·
Kelompok lain diminta mengomentari
·
Setiap kelompok membuat simpulan hasil
diskusi.
·
Membubarkan kelompok dan memberikan applus
untuk kegiatan pembelajaran hari itu
·
Setiap siswa menuliskan kembali isi cerita
dengan memperhatikan kaidah-kaidah bahasa.
|
45 Menit
|
|
3)
Kegiatan Penutup
|
·
Memberikan penguatan
·
Membuat simpulan
·
Menentukan batas-batas tugas untuk
pertemuan berikutnya.
·
Membuat refleksi/menulis jurnal tentang
proses pembelajaran
|
15 Menit
|
|
|
|
|
Referensi
RPP:
Depdiknas.
2007. Standar Isi KTSP. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas.
2006. Pintar Berbahasa Indonesia untuk Kelas V SD. Jakarta:
Depdiknas.
Nurgiyantoro, Burhan. 2003. Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta:BPFE
LK. Ara. 1989. Adat Budaya Tanah Gayo. (Tidak diterbitkan)
|
LEMBAR KERJA SISWA
|
Mata
Pelajaran : Bahasa
Indonesia
Kelas : V
Semester : 1
Waktu : 2 x 35
menit (1 x Pertemuan)
Topik : Cerita Rakyat Tanah Gayo
I.
Konsep
Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita
rakyat:
·
Nilai Agama
·
Nilai Budaya
·
Nilai Moral
II.
Hasil yang Diharapkan
·
Siswa dapat membuat sinopsis Cerita Rakyat
NAD
·
Siswa dapat menuliskan nilai-nilai yang
terkandung dalam cerita rak-
yat yang dibacanya.
III.
Prosedur
1)
Setelah pulang sekolah, kunjungilah
perpustakaan wilayah atau toko-toko buku.
2)
Carilah buku-buku cerita rakyat NAD.
3) Bacalah cerita-cerita tersebut dengan cermat.
4)
Pilihlah sebuah cerita dan buatlah sinopsis
atau ringkasan cerita.
5)
Identifikasikablah nilai agama, nilai budaya,
dan nilai moral yang
terdapat dalam cerita rakyat yang kamu baca.
6) Tulislah masing-masing sebuah contoh kutipan nilai agama, nilai
budaya, dan nilai moral dalam cerita rakyat yang kamu baca.
IV. Nilai yang Dikembangkan
1. Nilai Kebajikan Lokal
·
Dapat menerapkan nilai-nilai yang terdapat
dalam cerita
rakyat dalam kehidupan
·
Menumbuhkan apresiasi siswa terhadap cerita
rakyat NAD.
- Nilai Keragaman Budaya
- Menumbuhkan kesadaran siswa bahwa di NAD terdapat
beragam cerita rakyat.
- Melalui cerita rakyat, siswa mengenal keragaman budaya
di NAD.
V. Hasil Temuan
1)
Cerita-cerita Rakyat NAD
- Amat Rhang Manyang
- Si Tanggang dari Haloban
- Ompung Garagasi
- Putri Pukes
- Putri Bensu
- Malem Diwa
- Si Pikhikh dan Bekhudihe
- Atu Belah
- Teumaleuk
- Putri Naga
- Pulo Asok
- Nun Parisi
2) Nilai-nilai dalam Cerita Rakyat
a) Nilai Agama
·
Mendengar nasihat orang tua
·
Berbakti pada orang tua
·
Mendirikan shalat
·
Berikhtiar dan berdoa
b) Nilai moral
·
Memupuk rasa setia kawan
·
Menghargai orang lain
·
Menjauhkan sifat iri dan dengki
·
Menjunjung tinggi sopan santun
c) Nilai Budaya
·
Adat perkawinan di Tanah Gayo
·
Acara peusijuek di Aceh Selatan
·
Mengangkat tangan kanan
ketika menyapa orang lain
·
Tradisi “Rabu Abeh” pada
bulan Safar
|
LEMBAR EVALUASI
|
Mata
Pelajaran : Bahasa
Indonesia
Kelas : V
Semester : 1
Waktu : 2 x 35
menit (1 x Pertemuan)
Topik : Cerita Rakyat Tanah Gayo
Prosedur
Evaluasi
|
Ranah yang Diukur
|
Cara Penilaian
|
Skor
|
Penilai
|
|
A.
Kognitif
Tes tentang:
tema,
amanat,
penokohan,
setting, dan
kemampuan
menulis.
|
·
Akademik Promt (penilaian proses) dilakukan
secara lisan
·
Tes tertulis menyangkut
a. unsur intrinsik
cerita
b. Kemampuan menulis
cerita
|
10-50
10-50
|
Guru
|
|
B.
Afektif
Apresiasi
terhadap
budaya
daerah
|
·
Pengamatan
|
Tinggi
Sedang
Rendah
|
Guru
|
|
C.
Psikomotor
|
--
|
--
|
--
|
Butir
Soal
1)
Tuliskan tema yang terkandung dalam cerita
Putri Pukes!
2)
Tuliskan amanat yang terdapat dalam cerita
Putri Pukes!
3)
Sebutkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam
cerita Putri Pukes!
4)
Sebutkan setting tempat dan setting waktu
dalam cerita Putri
Pukes!
5)
Tulislah kembali cerita Putri Pukes dengan kata-katamu sendiri!
BAB IV
RANGKUMAN
Ada perbedaan yang
mendasar antara pengertian pendekatan, metode, teknik, dan strategi. Pendekatan
adalah titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Metode
adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan. Teknik
adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu
metode. Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi
tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu.
Jenis-jenis
pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia: pendekatan Whole Language,
kontekstual, komunikatif, dan integratif. Jenis-jenis metode pembelajaran
bahasa Indonesia: metode audiolingual, komunikatif, produktif, langsung,
partisipatori, membaca, tematik, kuantum, diskusi, dan kerja kelompok kecil (small-group
work). Jenis-jenis strategi
pembelajaran: langsung (direct instruction), cooperative learning, problem solving, mengulang, elaborasi, dan organisasi.
BAB V
PENILAIAN
I.
Essai
Jawablah
pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat!
1. Jelaskan
perbedaan antara pengertian pendekatan, metode, teknik, dan strategi!
2. Berikan
alasan mengapa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD guru dapat menggunakan
pendekatan Whole Language!
3. Jelaskan
kelebihan dan kekurangan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran bahasa
Indonesia!
4. Berikan
alasannya, mengapa dalam pembelajaran bahasa Indonesia guru dapat menggunakan
metode audiolingual !
5. Jelaskan
perbedaan antara strategi cooperative learning dengan problem solving!
II.
Tugas
Kerjakanlah
tugas di bawah ini di lembar kerja!
1.
Buatlah rancangan
pembelajaran bahasa Indonesia (RPP) Kelas yang diampu berdasarkan SK dan KD
yang terdapat dalam Standar Isi!
2.
Berdasarkan RPP yang dibuat,
susunlah Lembar Kerja Siswa dan Lembqar Evaluasi!
DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, Teuku. 2009. Strategi Pembelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia. Banda Aceh: FKIP Universitas Syiah Kuala.
Brown, H. Douglas. 1994. Principles of Language
Learning and Teaching. Third Edition. New Jersey : Prentice Hall Regents.
Depdiknas. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta: Depdiknas.
_______________. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No. 22 Tahun 2006 Tanggal 23 Mei 2006, tentang Standar Isi. Jakarta.
Hernowo.
2005. Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar dengan Menggunakan Pendekatan
Kontekstual. Bandung: MLC.
Kemper,
Dave dkk. 1997. Writters Express A Handbook for Young Writters, Thinkers, and
Learners. Burlington: Write Source Educational Publishing House.
Kagan, Spencer. 1992. Cooperative Learning. San
Juan Capistrano: KCL
Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning
Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT
Grasindo.
Johnson, Elaine. 2007. Contextual Teaching and
Learning. Bandung : MLC
Mahmud,
Saifuddin. 2003. “Pendekatan Kontekstual” Makalah Disajikan pada Peringatan
Bulan Bahasa, 28 Oktober 2003, Balai Bahasa Banda Aceh.
Piegeat,
J. 1971. Psychology and Epistemology. New York: The Viking Press.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 tahun
2007 tentang Standar Proses.
Permendiknas
No. 22 th. 2006 tentang Standar Isi.
Rohani,
Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Sanjaya,
Wina. 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Jakarta: Kencana.
____________.
2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Suyatno, 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa
dan Sastra. Surabaya: Penerbit Surabaya Intelektual Club.
GLASARIUM
A
Academic achievement : kemampuan
akademik
Acquiring knowledge : menambah pengetahuan baru
Activing
knowledge : proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada
Applying knowledge :
mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan nyata
B
bulletin board : papan buletin
C
Cooperative Learning
: strategi pembelajaran yang menekankan
kepada proses kerja sama dalam suatu kelompok
D
Direct
Instruction : strategi Pembelajaran Langsung
F
Feed back : umpan balikan
Functional communication activies
: kegiatan-kegiatan komunikatif fungsional
M
Metode Partisipatori
Mapping : pemetaan konsep
Metode pembelajaran partisipatori : lebih
menekankan keterlibatan siswa secara penuh.
Mnemonics : membentuk kategori khusus
dan secara teknis dapat diklasifikasikan sebagai satu strategi, elaborasi atau
organisasi.
P
Pendekatan komunikatif : suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat
kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa.
Pendekatan kontekstual : mempraktikkan konsep belajar yang mengaitkan materi yang
dipelajari dengan situasi dunia nyata siswa.
Penilaian autentik : proses pengumpulan informasi oleh guru tentang
pengembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan siswa melalui berbagai
teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan, atau menunjukkan secara tepat
bahwa tujan pembelajarantelah benar-benar dikuasai dan dicapai. (Hayat,
2003:3).
Portofolio adalah kumpulan hasil kerja
selama kegiatan pembelajaran.
Problem Solving : strategi pembelajaran pemecahan masalah
P4QR : singkatan dar Preview (membaca
selintas dengan cepat), Question (bertanya), dan 4R singkatan dari read,
reflect, recite, dan review atau membaca, merefleksi, menanyakan pada diri
sendiri, dan mengulang secara menyeluruh. Strategi PQ4R merupakan strategi
belajar elaborasi yang terbukti efektif dalam membantu siswa menghafal
informasi bacaan.
R
Reflecting knowledge
: pengembangan refleksi pengetahuan
Q
Quantum Learning
: pecepatan belajar
S
Social interaction activies
: kegiatan-kegiatan yang sifatnya interaksi sosial
Strategi elaborasi : proses penambahan
rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna.
T
Teacher centered approach
: berorientasi kepada guru.
U
Understanding
knowledge : pemahaman pengetahuan
W
Whole language : suatu
pendekatan pembelajaran bahasa yang
menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah.
Terima kasih sudah berkunjung.
Terima kasih sudah berkunjung....Jika ada yang belum jelas, Silahkan hubungi saya di alamat E-mail : wiratrick@gmail.com



1 komentar:
iya sekarang memang belajar bahasa Indonesia harus memakai cara yang lebih menarik supaya tidak membosankan, ayo lestarikan bahasa Indonesia
Post a Comment