Saturday, December 22, 2012

CONTOH SKRIPSI BAHASA INDONESIA

"KUMPULAN CONTOH SKRIPSI BAHASA INDONESIA"
Judul:
 
REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA DI LINGKUNGAN TERMINAL SENEN JAKARTA PUSAT
BAB 1
PENDAHULUAN
Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra

1.1.    Latar Belakang

Mendengar kata pedagang asongan, supir, kondektur, dan calo mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita. Pedagang asongan adalah para pedagang yang biasa menjajakan dagangannya di sekitar terminal dan di dalam bus-bus. Mereka selalu berupaya untuk menarik pembeli agar membeli dagangannya, yang kadang juga suka terlihat sedikit memaksa. Supir adalah para pengemudi bus atau angkot yang selalu terlihat di lingkungan terminal. Kondektur adalah orang yang membantu supir untuk menarik penumpang ke dalam angkot atau bus, sedangkan calo adalah perantara atau reseller. Kata calo kadang bersifat negatif karena apa yang calo lakukan adalah menggunakan kesempitan orang menjadi suatu kesempatan. Calo juga identik dengan preman atau penguasa daerah tertentu yang sudah menjadi objek pencariannya.

Di lingkungan terminal, kita terkadang sering mendengar pembicaraan yang diucapkan oleh pedagang asongan, supir, kondektur, dan calo yang sering mengucapkan kata-kata kasar. Penulis sendiri pernah melihat bagaimana para supir angkot atau bus dengan wajah ‘terpaksa’ memberi sejumlah persenan kepada calo. Mungkin bagi sebagian orang hal yang dilakukan calo itu biasa saja, sehingga mereka pantas menerima sejumlah uang.

Lalu apa yang akan terjadi jika para supir dan kondektur tersebut tidak memberikan uang yang tidak sesuai dengan keinginan calo. Yang terjadi selanjutnya adalah teriakan kata-kata makian atau kata-kata kasar (sarkasme) yang keluar dari mulut calo tersebut kepada supir dan kondektur. Sarkasme yang keluar dari mulut calo-calo itu biasanya adalah nama-nama binatang dan jenis kelamin seseorang seperti ‘anjing’, ‘monyet’, ‘babi’, dan sebagainya. Jika supir tidak menerima perkataan yang dilontarkan calo kadang-kadang mereka pun membalas dengan makian yang lebih kasar, sehingga sering terjadi “adu mulut” antara calo, supir, dan kondektur. Hal ini juga sering diikuti oleh pedagang asongan yang sering menambah suasana menjadi ricuh.

Salah satu fenomena kebahasaan yang penulis dapatkan adalah tuturan yang diucapkan oleh salah satu calo dan supir angkot di Terminal Senen :
         Supir  :  “Yeuh duitna, dua rebu nya?”
        Calo   :  “ Anjing maneh mah ngan sakieu!”
        Supir  :  “ Terus mentana sabaraha? Urang ge can nyetor, teu boga duit     sia!”
        Calo   :  “ Mbung nyaho aing mah, sarebu deui atuh!”
        Supir  :  “ Lebok tah duitna, blegug maneh mah!”
        Calo   :  “Eh…dasar supir monyet”.

Fenomena kebahasaan di atas adalah penggalan beberapa kalimat realisasi kesantunan berbahasa yang diucapkan oleh calo dan supir angkot di Terminal Senen Jakarta Pusat. Penulis akan meneliti fenomena kebahasaan yang terjadi pada tiga bahasa, yaitu bahasa Sunda, bahasa Jawa , dan bahasa Indonesia. Banyak hal yang membuat kata-kata kasar keluar dari pemakainya. Sarkasme itu sendiri kadang bisa memancing kemarahan orang yang dituju, tapi kadang juga tidak berpengaruh karena itu sudah menjadi hal yang lumrah untuk keduanya. Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra

Dilihat dari sudut penuturnya, bahasa itu berfungsi personal atau pribadi (Halliday 1973; Finnocchiaro 1974; Jakobson 1960 menyebutkan fungsi emotif). Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedih, marah, atau gembira.

Dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara, maka bahasa itu berfungsi direktif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar (Finnocchiaro 1974; Halliday 1973 menyebutkan fungsi instrumental; dan Jakobson 1960 menyebutkan fungsi retorikal). Disini bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimaui si pembicara. Hal ini dapat dilakukan si penutur dengan menggunakan kalimat-kalimat yang menyatakan perintah, imbauan, permintaan maupun rayuan.

Bila dilihat dari segi kontak antara penutur dan pendengar maka bahasa disini berfungsi fatik (Jakobson 1960; Finnocchiaro 1974 menyebutkan interpersonal; dan Halliday 1973 menyebutkan interactional), yaitu fungsi menjadi hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat, atau solidaritas nasional.
Dalam masyarakat, bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi sangat beragam. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para  penuturnya  yang tidak homogen, tetapi juga karena interaksi sosial yang mereka lakukan beragam.

Menurut Moeliono (1980:17), mengikuti Quirk, Grenbaum, Leech, Svarvik (1972), ditinjau dari sudut pandangan penuturnya, ragam dapat diperinci menurut patokan daerah, pendidikan, dan sikap penutur.
Sarkasme adalah sejenis majas yang mengandung mengolok-olok atau sindiran pedas dengan menyakiti hati (Purwadarminta dalam Tarigan, 1990:92). Apabila dibandingkan dengan ironi dan sinisme, maka sarkasme ini lebih kasar. Menurut Badudu (1975:78), sarkasme adalah gaya sindiran terkasar. Memaki orang dengan kata-kata kasar dan tak sopan di telinga. Biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah.

Berbahasa adalah aktivitas sosial. Seperti aktivitas sosial lainnya, kegiatan bahasa bisa terwujud apabila manusia terlibat di dalamnya. Di dalam berbicara, pembicara dan lawan bicara sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan bicaranya. Setiap peserta tindak ucap bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi sosial itu (Alan dalam Wijana, 2004:28).

Di dalam berbahasa juga terdapat etika komunikasi, dan di dalam etika komunikasi itu sendiri terdapat moral. Moral mempunyai pengertian yang sama dengan kesusilaan yang memuat ajaran tentang baik dan buruknya perbuatan. Jadi, perbuatan itu dinilai sebagai perbuatan yang baik atau buruk (Burhanudin Salam, 2001:102).

Etika juga bisa diartikan sebagai ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dinilai baik dan mana yang jahat. Etika sendiri juga sering digunakan dengan kata moral, susila, budi pekerti dan akhlak (Burhanudin Salam, 2001:102).

Sementara itu, secara sederhana Prof. I. R. Poedjowijatna (1986), mengatakan bahwa sasaran etika khusus kepada tindakan-tindakan manusia yang dilakukan secara sengaja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal banyak yang tidak mengandung etika.

Dalam berkomunikasi, tidak akan pernah lepas dengan adanya pola berbahasa yang diucapkan kasar, baik berupa mengolok-olok atau sindiran yang menyakitkan hati. Seperti tuturan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur tidak mengandung unsur kesantunan berbahasa. Misalnya, mudah marah, kata-katanya kasar, dan bersifat memaksa saat meminta uang karena mereka merasa penguasa tempat tersebut.

Suparno menjelaskan dalam artikelnya, bahwa ragam bahasa yang tidak santun ini menjadi hal yang lazim diucapkan. Sarkasisasi tersebut justru menjadikan keakraban tanpa sekat strata, sehingga mereka yang menggunakan ragam bahasa tersebut dapat menikmatinya dengan senang dan bangga hati. Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra

Fenomena kebahasaan ini tentu saja menarik untuk diteliti karena dapat menambah wawasan keilmuan linguistik saat ini. Penulis memilih analisis kesantunan berbahasa pada tuturan orang-orang penghuni terminal berdasarkan pertimbangan bahwa; ragam bahasa yang kasar kerap kali menjadi instrumen komunikasi dalam pergaulan sebagian masyarakat Indonesia. Baik kalangan yang berpendidikan maupun yang tidak berpendidikan, karena penelitian mengenai kesantunan berbahasa ini masih jarang dilakukan, maka penulis tertarik untuk menelitinya.

1. 2. Identifikasi Masalah
Hal-hal yang diidentifikasi dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra
  1. wujud ragam bahasa yang dipakai oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur;
  2. bahasa yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur banyak yang tidak santun;
  3. ragam bahasa yang tidak sepantasnya diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur dan;
  4. penyimpangan-penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur.

1. 3. Batasan Masalah           .
Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini hanya terbatas pada hal-hal sebagai berikut:
  1. tuturan calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur yang tidak mengandung kesantunan;
  2. ragam bahasa yang tidak sepantasnya diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur;
  3. penyimpangan-penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di terminal angkot/bus.

1. 4. Rumusan Masalah:
  1.  Bagaimana realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal?
  2. Apa sajakah wujud ragam bahasa yang tidak santun yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur?
  3. Bagaimana penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur?
  4. Bagaimana persepsi penyimak bahasa yang berasal dari luar lingkungan terminal terhadap realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal?

1. 5. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah
  1. mendeskripsikan kesantunan berbahasa oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal;
  2. untuk mencari tahu ragam bahasa yang digunakan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal;
  3. mendeskripsikan penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal dan;
  4. mengetahui persepsi penyimak bahasa di luar lingkungan terminal terhadap kesantunan berbahasa calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur.

1. 6. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut.
  1. Untuk kajian linguistik, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya data tentang penelitian bahasa-bahasa kasar.
  2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendokumetasikan nilai-nilai kesantunan yang dituturkan di lingkungan terminal.


BAB II
Dapatkan bab ini setelah anda download, dikarenakan banyak pembahasan, maka dari itu saya memudahkan anda untuk mendownloadnya
BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra


3. 1.  Metode Penelitian

Latar belakang dan masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah masalah-masalah faktual. Maksudnya, masalah kesantunan berbahasa adalah masalah yang sedang dihadapi oleh pemakai bahasa Indonesia sekarang. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif bersifat deskriptif. Data yang dihasilkannya berupa kata-kata dan kalimat-kalimat yang termasuk kategori sarkasme yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal.

Istilah deskriptif itu menyarankan bahwa penelitian yag dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta-fakta yang ada atau fenomena yang memang secara empiris hidup pada penutur-penuturnya, sehingga yang dihasilkan atau yang dicatat berupa perian bahasa yang biasa dikatakan sifatnya seperti potret: paparan seperti adanya. Bahwa perian yang deskriptif itu tidak mempertimbangkan benar salahnya penggunaaan bahasa oleh penutur-penuturnya, hal itu merupakan cirinya yang pertama dan terutama (Sudaryanto : 1992:62).

Dalam hal ini penulis membuat deskripsi tentang bagaimana tuturan yang digunakan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur. Selain itu, penulis juga mengumpulkan fakta-fakta mengenai respons para penutur bahasa Indonesia yang tidak menggunakan tuturan sarkasme yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur. Dengan demikian, dari kedua fakta tersebut di atas dapat diperoleh persepsi  yang muncul dari penutur bahasa Indonesia ketika menerima suatu tuturan sarkasme calo, pedagang asongan, supir dan kondektur tersebut.

Metode penelitian deskriptif kualitatif dipilih karena penulis mengidentifikasi serta mendeskripsikan masalah-masalah yang berkenaan dengan tuturan yang tidak santun dan respons penutur melalui wawancara. Selanjutnya, penulis memperoleh data bagaimana persepsi yang muncul dari para penutur bahasa Indonesia ketika menerima tuturan yang tidak santun.
3. 2. Teknik Penelitian
   
3. 2. 1. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, teknik rekam, dan teknik catat. Penulis terlebih dahulu mengobservasi dengan mengamati situasi dan keadaan lingkungan, kemudian melakukan wawancara kepada calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur dengan melakukan wawancara berstruktur untuk mendapatkan informasi yang relevan. Selanjutnya, dengan teknik rekam penulis merekam kejadian faktual di lapangan. Terakhir langkah dilakukan dengan teknik catat, yaitu mencatat semua kejadian dari tuturan calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di Terminal Senen Jakarta Pusat.

Selanjutnya, proses pengumpulan data sebagai berikut:
1.    Teknik Rekam
Penulis meminta bantuan kepada teman yang berada di Jakarta Pusat menggunakan telepon genggam atau handphone untuk merekam tuturan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur, sehingga penulis akan mendapatkan data mengenai realisasi kesantunan berbahasa yang ada di lingkungan terminal, khususnya Terminal Senen Jakarta Pusat.
2.    Teknik Catat
hasil dari proses rekaman tuturan tersebut kemudian ditranskripsi beserta konteks yang dituturkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur. Setelah itu, akan didapatkan data tentang wujud ragam bahasa yang tidak santun yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal.
3.    Teknik Observasi
setelah data tertulis didapat, selanjutnya mengobservasi situasi dan keadaan lingkungan terminal. Melalui teknik ini kita akan mendapatkan data tentang penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur yang ada di lingkungan terminal.
4.    Teknik Wawancara
setelah hasilnya ditranskripsi selanjutnya dengan mewawancarai calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur. Selain itu, penulis juga mewawancarai penutur bahasa yang bertutur kata sopan dan santun sehingga akan diketahui persepsi penyimak bahasa terhadap realisasi kesantunan berbahasa yang berasal dari luar lingkungan terminal.
BAB IV

ANALISIS DATA TUTURAN LANGSUNG BERBAHASA DI LINGKUNGAN TERMINAL DAN RESPONS PARA PENUTUR BAHASA INDONESIA SERTA PEMBAHASAN
Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra


4. 1. Pengantar

Pada bab ini akan dibahas bagaimana tuturan langsung dan pelanggaran prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, kondektur, dan supir angkot yang berada di lingkungan terminal, serta bagaimana respons penutur bahasa Indonesia terhadap kesantunan berbahasa dari hasil wawancara. Kartu data untuk menganalisis tuturan-tuturan yang terjadi di lingkungan terminal.

Uraian ini menggambarkan  analisis tuturan langsung yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, kondektur, dan supir ditinjau dari kesantunan berbahasa, prinsip kesopanan (Leech) dan respons para penutur bahasa Indonesia.

Dalam mengumpulkan data penulis harus terjun langsung ke lapangan, yaitu daerah Terminal Senen Jakarta Pusat. Selama beberapa hari penulis mengamati kejadian yang ada di lingkungan terminal tersebut. Tuturan-tuturan yang diucapkan oleh orang-orang yang berada di lingkungan terminal terutama calo, pedagang asongan, supir dan kondektur, hanyalah tuturan yang mengandung kategori ketidaksantunan berbahasa. Hampir sebagian besar tuturan yang diucapkan oleh mereka adalah tuturan kasar, sangat tidak enak didengar, dan melanggar Prinsip Kesantunan Leech. Banyak hal yang menjadi penyebab mengapa orang-orang di terminal menuturkan tuturan kasar tersebut. Untuk itu dalam bab 4 ini penulis akan menganalisis tuturan kasar yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir dan kondektur yang melanggar prinsip sopan santun (Leech), dan respons para penutur bahasa Indonesia mengenai tuturan kasar di lingkungan terminal tersebut.

4. 2. Prinsip Kesantunan Leech
Berbicara tidak selamanya berkaitan dengan masalah yang bersifat tekstual, tetapi seringkali pula berhubungan dengan persoalan yang bersifat interpersonal. Prinsip Kesantunan memiliki sejumlah maksim, yakni maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, maksim kerndahan hati, maksim kecocokan dan maksim kesimpatian.

Pada keenam maksim di atas terdapat bentuk ujaran yang digunakan untuk mengekspresikannya. Bentuk-bentuk ujaran yang dimaksud adalah bentuk ujaran impositif, komisif, ekspresif, dan asertif. Bentuk ujaran komisif adalah bentuk ujaran yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran. Ujaran impositif adalah ujaran yang digunakan untuk menyatakan perintah atau suruhan. Ujaran ekspresif adalah ujaran yang digunakan untuk menyatakan sikap psikologis pembicara terhadap sesuatu keadaan. Ujaran asertif adalah ujaran yang lazim digunakan untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan.

Berikut ini penulis akan menganalisis tuturan langsung ketidaksantunan berbahasa di lingkungan terminal oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur. Tuturan yang dianalisis hanyalah tuturan yang melanggar prinsip kesantunan Leech.

4. 2. 1. Pelanggaran Maksim Kebijaksanaan
Bijaksana adalah suatu sifat atau karakter. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bijaksana diartikan sebagai sifat yang selalu menggunakan akal budi, arif, adil, kecakapan dalam menghadapi atau memecahkan suatu masalah.

Tuntunan-tuntunan untuk bertutur bijaksana agar tercipta hubungan antara diri (penutur) dan lain (petutur), dipaparkan dalam ilmu bahasa Pragmatik. Gagasan untuk bertutur santun itu dikemukakan oleh Leech dalam maksim kebijaksanaan, yang mengharuskan peserta tutur agar senantiasa berpegang teguh untuk selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan pihak lain.

Dalam konteks tuturan sehari-hari yang spontan, banyak kita jumpai pelanggaran terhadap maksim ini, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Seperti tuturan di bawah ini:
 BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra

5. 1. SIMPULAN
Setelah melakukan analisis terhadap tuturan langsung di lingkungan terminal dan respons penutur bahasa di luar lingkungan terminal, penulis menarik beberapa simpulan sebagai berikut :
  1. Tuturan yang ada di lingkungan terminal khususnya di Terminal Senen Jakarta Pusat yang dituturkan oleh calo, pedagang asongan, supir dan kondektur semuanya tidak mengandung unsur kesantunan berbahasa dan melanggar Prinsip Kesantunan Leech.
  2. Wujud ragam bahasa yang tidak santun yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir dan kondektur sangatlah kasar. Seperti misalnya terdapat nama-nama binatang yang sering diucapkan oleh mereka. Wujud ragam bahasa tersebut sangat tidak enak didengar, menyakitkan hati, bicara dengan kepahitan, mengolok-olok atau sindiran dan mengandung celaan getir.
  3. Penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir dan kondektur melanggar maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan dan maksim kesimpatian. Pelanggaran terbesar ada pada maksim kebijaksanaan. Maksim kebijaksanaan ini menggariskan setiap peserta pertuturan untuk meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain.
  4. Persepsi penutur bahasa di luar lingkungan terminal seperti guru, mahasiswa, karyawan swasta dan ustadz beranggapan bahwa tuturan yang ada di lingkungan terminal sebagian besar adalah tuturan kasar. Menurut mereka yang menjadi latar belakang penutur mengucapkan tuturan kasar adalah latar pendidikan yang rendah, lingkungan yang memungkinkan mereka untuk bertutur kasar dan landasan iman yang kurang kuat.
  5. Tuturan kasar yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir dan kondektur yang melanggar Prinsip Kesantunan Leech ternyata sudah menjadi bahasa sehari-hari yang mereka ucapkan jika berada di lingkungan terminal, namun jika mereka berada di luar lingkungan terminal mereka tidak menuturkan tuturan kasar tersebut.
  6. Faktor yang menjadi penyebab calo, pedagang asongan, supir dan kondektur menuturkan tuturan kasar adalah faktor lingkungan dan faktor social. Faktor lingkungan timbul karena perbedaan asal daerah penuturnya. Maksudnya mereka menuturkan tuturan kasar tersebut karena memang lingkungan yang mereka hadapi menerima dan tidak terlalu peduli dan situasinya memang mendukung untuk mengucapkannya. Sedangkan faktor sosial timbul karena perbedaan kelas sosial penuturnya karena para penghuni yang bekerja di lingkungan terminal sebagian besar memang status sosialnya rendah dan latar belakang pendidikan mereka juga rendah.



5. 2. SARAN

Berdasarkan hasil analisis data dan simpulan yang telah penulis kemukakan di atas, pada bagian ini penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:
  1. Penulis berharap ada penelitian lanjutan yang lebih spesifik terhadap realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal, dengan kajian yang menarik, sample yang lebih besar, dan teknik analisis yang lebih mendalam untuk mendapatkan hasil kajian yang sempurna.
  2. Seiring dengan masih jarangnya penelitian mengenai kesantunan berbahasa, maka penelitian ini perlu mendapatkan perhatian dari para ahli bahasa. Terutama pihak yang berwenang dalam bidang ini mampu memberikan bantuan demi melancarkan penelitian.
  3. Agar dalam melakukan penelitian secara langsung ke lapangan penulis diberikan kemudahan dalam mendapatkan data dari sumber yang dituju.
  4. Berharap jika ada penelitian lanjutan, peneliti selanjutnya lebih berani mengungkapkan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan, tidak terpaku pada apa yang dilihat dan didengar saja.
DAFTAR PUSTAKA
Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra

Alwasilah, A. Chaedar (2003). Pokoknya Kualitatif. Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya dan Pustaka Studi Sunda.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Hanafi, Abdillah. 1984. Memahami Komunikasi Antar Manusia. Surabaya: Usaha Nasional.
Hasan, Alwi. 1995. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Harras, Kholid A. Santun Berbahasa. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.
_______. ____. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta : Balai Pustaka.
_______. 2009. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, EYD TERBARU (Permendiknas Nomor 46 Tahun 2009). Yogyakarta: Pustaka Timur.
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta : PT. Gramedia.

Bagikan ke :

Facebook Google+ Twitter Digg Technorati Reddit

Artikel Terkait CONTOH SKRIPSI BAHASA INDONESIA

0 komentar:

SKRIPSI LENGKAP

LABEL

HOPE YOU HAPPY

Terima kasih sudah berkunjung....Jika ada yang belum jelas, Silahkan hubungi saya di alamat E-mail : wiratrick@gmail.com

Get this widget!

  © Blogger templates The Professional Template by Top Education, Skripsi Terbaru , Artikel Bahasa Inggris 2013

Back to TOP