Contoh Materi Case Study dalam pembelajaran
Materi
Case Study dalam Pembelajaran
CASE STUDY: EVALUASI DIRI SEORANG GURU
1. Pendahuluan
Apakah saya sudah
profesional sebagai seorang guru? Sebuah pertanyaan yang mudah dilontarkan,
tetapi tidak terlalu mudah untuk dijawab. Dilihat dari kacamata orang awam,
menjadi guru tidaklah terlalu sulit. Memiliki sedikit pengetahuan dan
keberanian berdiri di depan siswa di kelas, maka jadilah seorang guru. Hal demikian
diyakini dan diasumsikan oleh sebagian orang. Selain itu, banyak juga yang meyakini bahwa untuk menjadi guru,
seseorang harus sudah menempuh pendidikan keguruan dan memiliki sertifikat
untuk menjadi guru. Namun, barang-kali hanya sedikit orang yang bersedia
menyisakan sedikit pikirannya untuk berpikir bahwa menjadi guru tidaklah
segampang yang pernah dibayangkan orang. Bahkan, para guru sendiri, dalam
jumlah yang sedikit, mungkin juga pernah berpikir bahwa tugas guru adalah
berdiri di kelas dan menyampaikan
sejumlah pengetahuan kepada siswa dari pukul sekian sampai pukul sekian. Ini
adalah rutinitas seorang guru. Mereka menyebut pula, “Saya adalah guru senior
yang sudah cukup berpengalaman”. Ini memang tak terbantahkan jika kesenioran
hanya dipandang dari lamanya masa tugas sebagai guru dan pengalamannya berdiri
di depan kelas. Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan guru karena
bagaimanapun manusia-manusia berkualitas yang pernah kita kenal tentunya tidak
terlepas dari bimbingan dan didikan seorang guru.
Penulis
yang juga seorang guru, dengan tulisan ini bermaksud berbagi sedikit pengalaman
untuk menambah wawasan kita tentang guru dalam konteks pembelajaran. Marilah
kita menyimak sebuah cerita berikut yang dituturkan oleh seorang mahasiswa
calon guru.
Ketika itu saya kelas I SMP. Guru saya, pengasuh mata
pelajaran X masuk kelas, bertanya jawab sebentar dan kemudian meminta ketua
kelas kami menulis materi pelajaran di papan tulis untuk kami. Kemudian guru
tersebut meninggalkan ruang kelas. Kami materi pelajaran sebagaimana yang
ditulis oleh ketua kelas di papan tulis. Ketika waktu untuk pelajaran X tersisa
10 menit lagi, guru kembali ke kelas sambil berujar, “Anak-anak pelajaran kita
hari ini kita akhiri sampai di sini, pelajari baik-baik materi yang baru kalian
catat. Materi ini adalah materi penting. Kemudian beliau mengucapkan salam dan
bergegas meninggalkan ruang kelas untuk mengajar di kelas yang lain. Selama
satu semester, saya masih ingat bahwa
guru mata pelajaran X hanya beberapa
kali menjelaskan materi pelajaran kepada kami. Selebihnya, kami hanya mencatat
materi yang dituliskan oleh ketua kelas di papan tulis. Namun, tidak pernah
sedikit pun terbersit dalam pikiran kami untuk protes terhadap model
pembelajaran yang demi-kian. Kala itu, saya, mungkin juga teman-teman saya,
berpikir bahwa cara seperti itu adalah salah satu cara mengajar. “Oh begitu
mudah menjadi guru” begitu saya pernah berpikir.
Hari ini, ketika saya menyimak pembacaan sebuah
pengalaman pembelajaran (narasi case
study) yang ditulis oleh seorang guru, pengetahuan saya bertambah. Saya
menyadari bahwa adalah suatu kekeliruan jika
seorang guru hanya bisa meminta ketua kelas menulis materi pelajaran di
papan tulis atau mendiktekan materi pelajaran kepada siswa hingga jam pelajaran
berakhir. Kiranya, untuk menjadi seorang
guru dibutuhkan kompetensi-kompetensi tertentu seperti kompetensi akademik,
kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Saya
menanamkan sebuah tekad di dalam hati, andai nanti saya menjadi guru, saya
tidak akan mengulangi kekeliruan seperti mendiktekan materi pelajaran, menulis
materi di papan tulis tanpa penjelasan apa-apa, mengabaikan pertanyaan siswa,
kurang menghargai jawaban siswa, dan hal-hal lainnya yang merupakan kekeliruan
dalam sebuah pembelajaran. Saya akan menunjukkan bahwa menjadi guru tidaklah
segampang yang pernah dibayangkan orang. Demikian kisah seorang mahasiswa calon
guru.
Apa makna
yang dapat kita petik dari kisah tersebut? Kisah tersebut menunjukkan kepada
kita tentang pentingnya seorang guru menulis pengalaman pembelajarannya. Peng-alaman
tersebut akan berguna bagi guru itu sendiri sebagai evaluasi diri (self
evaluation) dan berguna bagi orang lain terutama para guru dan calon guru
tentang bagaimana seharusnya sebuah pembelajaran berlangsung. Pengalaman
pembelajaran yang ditulis oleh seorang guru dalam bentuk narasi inilah yang
dikenal sebagai case study.
Menarik
juga untuk dicermati pengalam-an guru dalam konteks pembelajaran berikut
ini.
“Tolong nyalakan kipas angin itu!” kata guru fisika.
Seorang siswa berdiri dan memutar saklar kipas angin, ke-mudian kipas berputar.
“Mengapa kipas ini dapat berputar?” sang guru
bertanya. “Ya, karena sudah dinyalakan, Pak!” jawab siswa. “Betul sekali,” sahut guru. “Apa
artinya menyalakan?” Seorang siswa menjawab dengan sekenanya, “Menyalakan
artinya memberikan aliran listrik, Pak.” Dengan cepat guru menyahut, ‘Ya, Anda
benar.” Siswa itu terkejut tidak mengira jawabannya benar. Ia jadi tertarik
ingin terlibat dalam pembicaraan fisika kali ini. “Mengapa dengan adanya aliran
listrik kipas angin ini berputar?” sang guru merumuskan pertanyaan yang lebih
spesifik. Tampak para siswa belum menemukan jawaban—sekonyol apa pun. Tapi,
salah satu siswa membuka-buka buku fisikanya. Didapatinya materi pertama cawu
ini adalah induksi mag-netik. Dengan santainya ia berucap, “Karena induksi
magnetik” “Ya, benar. Induksi magnetik adalah penyebabnya” sang guru
mempertegas. “Ha...induksi magnetik! Mengapa begitu Pak?” tanya para siswa.
Inilah saat yang tepat memulai pembelajaran.
Menyimak
penggalan pembelajaran tersebut, seorang guru atau calon guru dapat memetik
beberapa pengalaman tentang bagaimana seharusnya sebuah pembelajaran
berlangsung. Beragam gaya dapat diterapkan oleh seorang guru untuk memulai pembelajaran.
Penggalan pembelajaran tersebut memperlihatkan fakta-fakta yang dilakukan guru
(1) tidak meminta ketua kelas menulis materi pelajaran di papan tulis, (2)
tidak mendiktekan materi pelajaran, (3) tidak berceramah, (4) memberi kesempatan
kepada semua siswa untuk berpartisipasi, (5) mengajukan pertanyaan dengan
bahasa yang komu-nikatif sehingga mudah dipahami siswa, dan (6) menghargai
siswa dan menghargai jawaban mereka yang disertai dengan penguatan. Penggalan pengalaman pembelajaran bidang studi
fisika tersebut jika diberii sentuhan-sentuhan emosional, hasilnya adalah
sebuah narasi pembelajaran yang lebih dikenal sebagai case study.
2. Hakikat Case study
(Sebagian besar uraian tentang case
study berikut ini materinya diperoleh dari pelatihan case study di
MTL FKIP Unsyiah pada Januari s.d. Juni 2008. Pada uraian tersebut tercermin
pikiran-pikiran Ibu Mary F. Sanders dan
A.R Asy’Ary, serta pikiran-pikiran peserta pelatihan pembelajaran
berbasis case study, semua terang-kum dalam tulisan ini.)
Case study atau studi kasus adalah rang-kuman pengalaman pembelajaran (pengalaman
mengajar) yang ditulis oleh seorang guru/dosen dalam praktik pembelajaran
mereka di kelas. Pengalaman tersebut memberikan contoh nyata tentang
masalah-masalah yang dihadapi oleh guru pada saat mereka melaksanakan pembel-ajaran.
Gunanya adalah melalui pengkajian case study dalam pembelajaran dengan
segala kompo-nennya, para guru dapat melakukan evaluasi diri (self evalution), dapat memperbaiki dan
sekaligus dapat meningkatkan praktik pembelajaran me-reka di kelas. Bagi para
calon guru, kajian terhadap case study akan dapat membuka wawas-an
mereka terhadap pembelajaran dan mena-namkan konsep bagaimana seharusnya
pembelajaran itu berlangsung.
Di sisi lain, case
study tentang pembel-ajaran dapat digunakan untuk membantu, baik guru
maupun mahasiswa calon guru dalam memahami hakikat pembelajaran. Studi kasus seperti ini menjadi
catatan penting dalam pelaksanaan pembelajaran secara nyata. Case study
ditulis dalam bentuk narasi dan berisi pengalaman pembelajaran yang paling
berkesan yang Anda ingat karena kesuksesannya, kesulitan, atau pengalaman yang
penuh problematika. Case study ditulis dengan memperhatikan hal-hal
berikut ini.
(1)
Case study ditulis dalam bentuk cerita naratif yang sangat rinci dan sangat erat
kaitannya dengan pengalaman yang Anda alami.
(2)
Case study tersebut sedapat-dapatnya harus ringkas.
Maksimum dua halaman ketikan. Namun, jika pengalaman yang akan diungkap
dalam case study tergolong cukup esensial sebagai pengalaman bagi orang
lain, case study dapat juga ditulis melebihi dua halaman ketikan.
(3)
Case study harus memuat unsur kemanusiaan: kemauan yang Anda miliki, tindakan dan
kesalahan Anda yang mengecewakan dan rasa kesenangan atau kekecewaan pada saat
selesainya pembahasan.
(4)
Case study harus memiliki judul yang dapat mewakili keseluruhan isi pengalaman
pembelajaran yang dituliskan.
(5)
Pengalaman yang dituangkan
dalam case study adalah ungkapan kejujuran. Artinya, cerita dalam case
study adalah cerita kejujuran.
3. Manfaat Case
study
Manfaat yang dapat dipetik dari case
study bagi guru dan bagi mahasiswa calon guru dapat dikemukakan sebagai
berikut.
(1) Sebagai
evaluasi diri (self evalution) bagi
guru untuk dapat memperbaiki dan sekaligus dapat meningkatkan praktik pembelajaran
mereka di kelas.
(2) Sebagai
pembuka wawasan mahasiswa calon guru terhadap pembelajaran dan penanaman konsep
bagaimana seharusnya pembelajaran itu berlangsung.
(3) Guru dan
mahasiswa calon guru dapat belajar dari kegagalan orang lain (guru pe-nulis case
study).
(4) Menemukan
kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran berdasarkan pengalaman penulis case
study.
(5)
Mahasiswa calon guru dapat
memperoleh gambaran yang nyata tentang dunia anak khususnya di sekolah,
termasuk di dalamnya memahami psikologi anak.
(6)
Guru dan mahasiswa calon guru
dapat menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang tepat sehingga tidak
mengulangi kekeliruan yang dialami oleh penulis case study.
(7)
Keberhasilan yang dialami oleh
penulis case study dapat menjadi
acuan bagi orang lain (guru dan calon guru).
(8)
Bagi guru pamong, case study bermanfaat dalam pembimbingan
mahasiswa PPL me-laksanakan pembelajaran agar menjadi lebih baik.
(9)
Dengan mengkaji case study, guru ataupun calon guru
menjadi lebih terbuka, lebih jujur, dan lebih berani mengungkapkan kegagalan
yang dialaminya dalam pembel-ajaran.
(10)
Guru dan calon guru dapat
belajar menulis pengalaman pembelajarannya dalam bentuk narasi pembelajaran.
4. Tujuan Menggunakan Case
study dalam Pembelajaran
Tidak selalu jelas dan juga tidak disepakati apa permasalahan sebenarnya
dalam kegiatan pembelajaran, tetapi sangat penting sekali untuk dapat
mengidentifikasi apa permasalahan pokok yang sebenarnya sehingga kita dapat
mempelajari pelajaran tersebut secara tepat berdasarkan pengalaman. Ini bukan
berarti dapat membe-tulkan interpretasi. Sepertinya setiap komentator memiliki
pandangan yang saling berbeda tentang isu penting apa sebenarnya yang ada. Ini
bertujuan menunjukkan kepada pembaca macam-macam isu yang dapat ditemukan dalam
sebuah pembehasan pembelajaran dan macam-macam perspektif tentang pembahasan
apa yang disampaikan. Berikut ini adalah sebuah contoh kisah seorang guru yang
menulis tentang pembahasan mata pelajaran fisika yang pernah dia ajarkan dan
bagaimana dia mengajarkannya.
“Galileo Dikaji Ulang” Oleh Gerald Carey
·
Fisika selalu menarik bagi
saya, tetapi sayangnya saya tidak menguasai ide dasar Fisika. Sebenarnya saya
telah mengajar Fisika kelas 10 secara sporadis beberapa tahun terakhir ini.
Sebagai seorang guru Biologi, saya merasa bahwa semestinya pelajaran ini
menarik, tetapi ternyata malah selalu membosankan. Saya yakin hal yang sama
juga dialami oleh para siswa. Saya belum pernah merasa mantap dengan mata
pelajaran ini. Fisika dalam pandangan saya seperti sebuah kumpulan konsep yang
terhubungkan secara samar-samar dan dibanjiri oleh rumus. Karena pemahaman saya
terhadap cahaya atau hukum gerak sangat lemah dan dangkal, saya tidak mampu
menjelaskan konsep ini dengan penuh percaya diri. Begitu juga ketika praktikum
Fisika. Semua trolley, ticker times, dan kotak lampu tidak
memberikan makna apa-apa bagi-semuanya hanya sekadar upaya meng-ilustrasikan
sebagian aspek kecil dari teori tanpa betul-betul memberikan kejelasan.
Bagaimana saya dapat membantu pemaham-an siswa saya kalau saya sendiri seperti
ini?
·
Tahun ini berbeda. Hubungan
dekat dengan seorang guru Fisika yang berdedikasi dan akses untuk memperoleh
buku yang baik (tanpa terlalu banyak rumus) telah mem-berikan pemahaman yang
lebih baik kepada saya. Saya betul-betul ingin mengajarkan topik tersebut. Akan
tetapi, saya tidak yakin apakah hal yang baru ini bisa membantu siswa
memperoleh pemahaman yang lebih baik? Akankah mereka belajar sesuatu yang
signifikan dan relevan? Mari perhatikan pengalaman saya berikut dan tolong Anda
menjadi hakimnya.
·
Pada awalnya, pelajaran dimulai
dengan hukum I Newton tentang gerak, yakni: “Benda yang diam akan selalu diam
dalam kecepatan itu kecuali dikenai suatu gaya.” Pemahaman terhadap hukum ini
sangat bergantung kepada pemahaman tentang “inersia” serta dampak dari gesekan
dan hambatan udara. Pada hari yang istimewa ini saya masuk ke kelas 10 dengan
tujuan mencoba menunjukkan sebanyak mungkin contoh dari hukum I Newton.
·
Contoh-contoh yang saya berikan
antara lain:
ü Jika kalian mengendarai gokart akan berhenti, tetapi kalian akan tetap
bergerak dengan kecepatan konstan (terlempar) sampai kalian dihentikan oleh
suatu gaya (nama-nya tanah).
ü Sangat penting untuk selalu menempatkan anak kecil duduk di kursi
belakang mobil sebab jika mobil berhenti tiba-tiba, inersianya melemparkan
penumpang ke kaca de-pan.
ü Jika membawa satu mangkuk besar air dan berhenti secara tiba-tiba, besar
sekali peluang air tersebut akan tumpah. Air itu akan terus bergerak dengan
kecepatan yang kon-stan kendatipun kalian sudah menghentikan mangkoknya.
·
Demikianlah, pelajaran tersebut
berlangsung. Saya tidak begitu yakin apakah saya sudah berhasil memberi dampak
pengertian kepada mereka. Saya kemudian mendisku-sikan peranan dari hambat
udara dalam menghentikan benda yang bergerak dengan kecepatan tetap. Saat itu
semua siswa di kelas tidak tahu dari apa udara terbentuk dan mengapa bisa
menghambat gerakan udara. Saya memberi contoh tentang kegiatan mengendarai
sepeda pada waktu angin kencang. Saya bertanya kepada mereka, “Apa yang ada di
dalam angin sehingga sepeda berjalan lebih lambat?” Saya kemudian menawarkan
gagasan bahwa molekul-molekul gas di udaralah yang secara bersa-ma-sama
mempengaruhi gaya untuk meng-hambat gerakan benda itu. Saya merasa senang
melihat betapa kepala mereka meng-angguk-angguk walaupun saya melihat pula
tatapan mereka masih terlihat hampa.
·
Singkat cerita, saya kemudian
membahas eksperimen Galileo yang diakui dilakukan di Menara Pisa yakni
menjatuhkan dua buah benda yang berukuran sama dengan berat berbeda. Saya
katakan bahwa kita dapat mengilustrasikan eksperimen tersebut di dalam kelas
untuk membantu kita memahami dampak dari hambat udara.
·
Saya pegang sejajar satu
stopmap datar dan secarik kertas dan saya minta kepada siswa untuk
memprediksikan mana yang akan menyentuh lantai terlebih dahulu. Kebanya-kan
siswa menyatakan bahwa stopmaplah yang akan menyentuh lebih awal. Menurut
mereka, stopmap lebih berat daripada secarik kertas. Karena itu, stopmaplah
yang akan mencapai lantai terlebih dahulu. Saya jatuh-kan keduanya dan ternyata
memang benar bahwa stopmap menyentuh lantai terlebih dahulu.
·
Selanjutnya, saya letakkan
secarik kertas tersebut tersebut stopmap dan kembali saya tanyakan kepada
mereka mana yang lebih cepat menyentuh lantai? Sekali lagi mereka menjawab
bahwa stopmap yang akan mencapai lantai terlebih dahulu. Mereka yakin seperti
itu karena menurut mereka stopmap itu lebih berat daripada secarik kertas.
·
Saya jatuhkan keduanya dan
bertentangan dengan intuisi mereka. Ternyata, secarik kertas yang akan
ditempelkan tersebut stopma itu tidak melayang-layang. Ia ikut dan tetap
menempel bersama dengan stopmap tersebut serta melaju jatuh ke lantai dengan
kecepatan yang sama. Mereka mengira bahwa saya menipu mereka dengan cara saya
memberikan alat perekat kepada kertas itu. Nah, untuk mengakhiri kecuri-gaan
itu, saya kemudian meremas-remas kertas itu menjadi berbentuk bola, saya
jajarkan dengan stopmap dan saya minta mereka membuat prediksi lagi. Mereka
tetap mengatakan bahwa stopmaplah yang akan menyentuh lantai lebih dahulu. Saya
jatuhkan keduanya dan “AHA” keduanya jatuh hampir bersamaan.
·
Ketika saya meminta penjelasan
terhadap pengamatan mereka, banyak siswa yang kebingungan. Pengalaman mereka
selama ini menunjukkan bahwa semakin berat suatu benda, semakin cepat jatuhnya.
Akan tetapi, mereka baru saja melihat bahwa persepsi seperti ini ternyata tidak
selalu benar. Kebingungan seperti ini adalah hal yang bagus. Kebingungan ini
terjadi disebabkan oleh tertantangnya apa yang mereka yakini seba-gai suatu
kebenaran, bukan karena tidak memahami penjelasan saya.
·
Ini merupakan suatu kebingungan
yang muncul ketika apa yang selama ini Anda yakini ditantang dan bukan karena
semata-mata karena mereka tidak mengerti penjelasan saya. Ini penting sekali
bahwa mereka alami tahap kebingungan karena ini bermaksud bahwa mereka akan
terbuka untuk menjelaskan penjelasan ilmiah tentang struktur udara dan
bagaimana udara dapat mendesak gaya pada benda, gaya yang kita sebut hambat
udara. Dari diskusi yang muncul, begitu siswa meninggalkan ruangan kelas
tampaknya beberapa ide yang saya sampaikan akan sampai ke rumah dan beberapa
ide instuitif mereka aka ditantang. Apa bedanya pelajaran ini bagi siswa yang
mempelajari topik yang sama tahun lalu?
Apa inti
cerita tersebut? Ini merupakan pertanyaan kunci bagi Gerald dan lainnya
untuk dijawab bahwa cerita mereka tentang pengalam-an mengajar akan memberikan
kontribusi pembelajaran kepada mereka. Agar terfokus pada pemikiran mereka pada
kasus-kasus terse-but, kami meminta setiap guru untuk mengum-pulkan empat
komentar mereka. Satu komentar dipersiapkan oleh guru, yang lainnya oleh
seorang guru praktik atau guru baru dan komentar ketiga disampaikan oleh guru
yang berpengalaman atau pendidik guru. Akhirnya, guru-guru itu diminta untuk
mendiskusikan ketiga komentar tersebut pada tugas mereka dan mengambil beberapa
kesimpulan tentang kasus itu.
(1) Komentar Pertama Gerald
Tiga minggu setelah
ia menulis kasus itu, Gerald menulis komentar singkat tentang kasus tersebut.
Melihat kembali pada “Galileo Dikaji Ulang” dia mencatat bahwa tidak setiap
pelajaran sejak saat itu sebagus yang ini.
Saya selalu
frustrasi dengan pengetahuan saya yang kurang dalam bidang ini. Tidak begitu
banyak dengan teori, tetapi tentang semua cerita, pengalaman dan demonstrasi
yang sangat penting agar membantu siswa untuk dapat lebih memahami pelajaran.
Cerita ini benar-benar menggambarkannya dengan baik dan saya ingat dengungan
di lab dengan siswa bersender melihat map dan kertas hijau, berargumen satu
sama lain tentang perkiraan mereka dan meng-ajukan pertanyaan tentang apa
yang mereka lihat.
|
Kemudian
bagi Gerald, hal itu merupakan kasus kesuksesan yang pantas untuk dirayakan,
satu kesempatan kecil ketika pembelajaran Fisikanya memenuhi standar dia
sendiri atas keterlibatan siswa dalam proses pembel-ajaran. Pada saat Gerald
menunjukkan ceritanya kepada ketua jurusan, Arthur, dia mendapatkan bacaan yang
sedikit berbeda.
(2) Komentar Ketua
Jurusan
Arthur memulai
dengan mengobservasi bahwa cerita itu menyoroti permasalahan pembelajaran
Fisika oleh orang yang bukan ahlinya dan meng-anjurkan untuk menyusun kembali
jadwal untuk mata pelajaran kelas 10 untuk memastikan kalau hal-hal seperti itu
tidak terulang lagi tahun depan. Walaupun Arthur mengakui bahwa cerita itu
memperlihatkan bahwa seorang guru “terbuka untuk belajar dan mau mendengar
pendapat dari orang lain.” Dia kecewa karena Gerald tidak datang menjumpainya
untuk me-minta nasihat. Sebagai guru Fisika
yang ahli dan berpengalaman, Arthur memiliki banyak saran untuk kegiatan
yang akan memastikan bahwa siswa akan tertarik dan senang belajar.
Sangat sayang
sekali bahwa seorang guru menutup pelajaran dengan pikiran siswa masih terbu-ka
tanpa suatu tujuan dan hasil yang jelas. Dia telah dapat menantang siswa
dengan memberi penjelasan dengan memberikan contoh-contoh dari efek hambat
udara-kenapa truk dan mobil sport mempunyai sekup dan penghalang udara?
Bagaimana perahu layar menggunakan “hambat udara” untuk berlayar menembus
angin? Mereka malah bisa mendesain sebuah eksperimen untuk mengetes cara
berlayar yang baik. Tanpa ada tindak lanjut seperti itu, saya kuatir apakah
peng-alaman siswa yang baik yang mereka dimiliki akan berpengaruh untuk
jangka waktu yang lama.
|
Bagi Gerald
“Galileo Dikaji Ulang” merupakan kasus kesuksesan yang tidak biasanya dalam
mengajar Fisika; Bagi Arthur ini merupakan kasus pembelajaran yang berpotensi
menarik dengan membuat siswa “berpikir sendiri dengan pikiran mereka
masing-masing”.
(3) Komentar Calon Guru
Mary, seorang calon
guru, menarik kesimpulan ketiga dari kasus tersebut. Apa yang sebenarnya dia
sukai tentang “Galileo Dikaji Ulang” adalah pengetahuan yang mendalam yang
dipetiknya dari cerita tersebut tentang “Bagaimana seorang guru benar-benar
bekerja di ruang kelas?” Dia sangat terkejut betapa jujurnya Gerald, dan
melihat perasaan frustrasi yang sama dalam pekerjaan praktik mengajar dia
sendiri. Dia khususnya senang sekali dengan cara Gerald menceritakan suasana
kelas dan nilai-nilai guru:
Cerita itu
memberikan saya perasaan yang sebe-narnya terhadap ruangan kelas-pertanyaan
diskusi dan jawaban. Kita hampir dapat merasa-kan suasana di dalam kelas….
Saya juga dapat memperoleh ide tentang hal-hal penting dari guru ini-frustrasi
karena tidak sepenuhnya me-mahami mata pelajaran tahun-tahun sebelumnya;
kegembiraan karena siswanya sangat antusias dengan topik pelajaran dan mau
berpikir tentang konsep-konsep yang ada; pentingnya memiliki rasa percaya
diri ketika mengajar.
|
(4) Komentar
Kedua Gerald
Setelah
menyiapkan komentar pertamanya, dan mengumpulkan dua komentar yang lain, Gerald
kemudian diminta untuk merefleksikan kembali pengalaman menuliskan kasus dan
membaca komentar itu. Dia menyukai gagasan untuk menuliskan pembelajaran fisika
dalam bentuk naratif, dan memandang hal itu akan bermanfaat bagi para siswa
“sebagai suatu alat untuk membantu mereka merefleksikan diri mereka sendiri
sebagai pelajar di dalam kelas’. Gerald juga senang dengan respon yang
diberikan oleh seniornya (Arhtur). Di samping rasa malu karena dia tidak
meminta nasihatnya sebelum ini, dia melihat bahwa komentar Arthur juga memuat
saran-saran yang bermanfaat dan layak ditin-daklanjuti. Gerald juga menghargai
peluang terjadinya percakapan profesional dengan koleganya. Dia memberikan
komentar yang kedua sebagai berikut.
·
Saya merasa bahwa selama ini keangkuhan profesional saya
telah menghambat saya untuk meminta bantuan kepada kolega. Melalui latihan ini,
saya menemukan satu cara baru mengenal teman guru di luar waktu canda tawa yang
terjadi ketika makan siang, dan dengan cara begini saya bisa menunjukkan
kepribadian serta metode mengajar saya.
·
Pada akhirnya, Gerald mengomentari manfa-at dari
mengumpulkan komentar pada studi kasusnya. Membaca kembali kasus dan
komentar-komentar tersebut telah membantu dia “merefleksikan terhadap pelajaran
yang telah dikembangkannya” serta “melihat apa yang betul-betul terjadi”. Dia
merasa bahwa dia telah berhasil dalam memetik minat siswanya, tetapi dia juga
merasa bahwa dia masih belum berhasil mempertahankan minat tinggi tersebut
untuk belajar. Dia mengatakan bahwa berikutnya dia akan mencoba
“menggarisbawahi” masalah minat ini dan tidak akan “menunggu hingga pelajaran
berikutnya.”
Contoh case study
yang lain:
SAYA INGIN LEBIH
BERSAHABAT DENGAN MEREKA
Mereka dalam konteks judul tersebut adalah siswa Sekolah Dasar. Saya akan mengajar
bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Sesuai dengan tuntutan isi silabus, materi
pokok pembelajarannya adalah cerita. Saya akan melaksanakan pembelajaran
bercerita di Sekolah Dasar. Akankah saya mampu mengajar di Sekolah Dasar? Pertanyaan ini telah mulai mengganggu benak
saya sejak saya mengikuti Pelatihan/Workshop
Penu-lisan Modul PPL/Pengajaran Mikro yang disponsori oleh ERA. Salah satu inti
kegiatan itu adalah latihan mengajar di SD/MI berkolaborasi dengan teman-teman
guru SD/MI.
Saya
memang seorang guru. Namun, profesi ini selama belasan tahun saya jalani
ber-sama mahasiswa. Artinya, saya adalah seorang guru di perguruan tinggi.
Melaksanakan pembel-ajaran bersama mahasiswa tentu bukanlah hal yang baru dan
saya sangat menikmati pekerjaan ini. Mengajar di Sekolah Dasar/Madrasah
Ibti-daiyah adalah sesuatu yang lain. Saya merasa sangat tidak siap untuk itu.
Saya membayangkan akan berhadapan dengan anak-anak yang masih sangat lugu,
masih banyak membutuhkan bimbingan dan arahan. Pengetahuan yang akan kita
berikan kepada mereka adalah sesuatu yang sangat dasar yang akan menjadi bekal
bagi mere-ka dalam mengikuti jenjang pendidikan berikutnya. Saya juga yakin
bahwa kekeliruan yang dilakukan oleh
seorang guru dalam pembelajaran di tingkat dasar ini akan memberikan dampak
yang kurang baik bagi anak untuk jangka waktu yang sangat lama. Inilah dasar
pemikiran saya bahwa pembelajaran di Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah
bukanlah sesuatu yang dapat dianggap mudah.
Kamis, 24 Januari 2008, pukul 8.00
saya melaksanakan pembelajaran di kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh. Sesuai
dengan isi silabus semester 2, saya mengajar Keterampilan Menyimak terintegrasi
dengan Standar Kompe-tensi: Memahami cerita tentang suatu peristiwa dan
cerita pendek anak yang disampaikan secara lisan, dan Kompetensi Dasar: Mengidentifikasi unsur cerita (tokoh, tema, latar, dan amanat). Dua hari sebelum pembelajaran
berlangasung, saya menyiapkan RPP dengan memilih teks cerita “Mahjubah si
Pemalas”.
Awal
saya berdiri di depan kelas, saya melihat wajah anak-anak yang polos menantikan
sepatah kata pembuka dari saya. Terus terang waktu itu saya agak bingung
bagaimana saya harus memulai. Bagaimana saya harus menyapa mereka. Hampir saja
saya menyapa, “Saudara-saudara!” Namun, tentu saja itu tak jadi. Saya memilih
sapaan, “Anak-anak kita bertemu kembali dalam pelajaran Bahasa Indonesia.”
“Hari ini kita melanjutkan topik yang sudah pernah kita singgung pada pertemuan
sebelum-nya.” Ketika itu pula saya sadar telah melakukan ‘kebohongan’ karena
kita memang belum pernah bertemu sebelumnya dalam konteks belajar-mengajar di
kelas. Saya merasa mulai gugup. Namun, wajah polos anak-anak mengatasi
kegugupan itu. Saya melanjutkan, “Anak-anak hari ini kita akan mendengarkan
sebuah cerita yang berjudul “Mahjubah si Pemalas”. “Siapa di antara kamu yang tidak pernah mendengarkan cerita?”
Tidak satu pun anak-anak menjawab. Saya melanjutkan, “Bapak yakin kamu semua
pasti pernah mendengarkan cerita dan senang mendengarkan cerita.” (semua anak
duduk dalam kelompok yang tampaknya kelompok di kelas itu sudah permanen, satu
kelompok 5 orang).
Saya
membagikan fotokopi teks cerita. Kebetulan pada salah satu kelompok, teks yang saya bagikan berlebih dan serta-merta
seorang anak mengembalikannya kepada saya sambil berujar, “Pak ini lebih, Pak.”
“Oh, ya, terima kasih” Dalam konteks ini saya melihat nilai kejujuran pada
anak. Pengetahuan saya tentang anak bertambah. Mereka benar-benar ‘anak
manusia’ yang perlu mendapat didikan dengan benar.
Pembelajaran
berlanjut. Setiap kelompok saya minta mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan
amanat berdasarkan cerita yang mereka simak dan sekaligus mereka baca. Sebelum
anak-anak bekerja dalam kelompok mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan
amanat cerita, saya mengajukan
pertanyaan, “Siapa yang pernah me-nonton film?” (beberapa anak mengangkat
tangan). “Bagus!” Tampaknya di kelas ini semua anak pernah menonton film! “Film
apa saja yang pernah kamu tonton? (kelas hening, tidak ada yang menjawab).
Memang kalau kita banyak menonton film, banyak film yang kita lupa judulnya
bukan? Tidak apa! Yang penting semua anak pernah menonton film! Sekarang coba
kita ingat film India. Pernah nonton film India? Dengan bersemangat semua anak menjawab,
“Pernah, Pak!” “Iya, bagus!” Dalam film ada banyak pemain. Pemain film ini
disebut juga tokoh. Dalam cerita yang kita baca juga begitu. Ada pelaku cerita
yang lebih dikenal sebagai tokoh cerita. Jadi, dalam cerita ada tokoh utama dan
tokoh pembantu. (Saya menjelaskan per-bedaan tokoh utama dan tokoh pembantu).
Selain itu, dalam teks cerita seperti halnya film, juga ada tempat dan waktu
berlangsungnya kejadian. Inilah yang dikenal sebagai latar. Tidak itu saja,
setiap pengarang dalam ceritanya ingin mengemukakan suatu pokok persoalan
kepada pembaca. Inilah yang dikenal sebagai tema. Menikmati sebuah cerita
belumlah lengkap jika pembaca belum dapat memahami pesan yang ingin disampaikan
oleh pengarang. Pesan ini lebih dikenal sebagai amanat cerita dan biasanya
disampaikan oleh pengarang tidak secara nyata. Tugas pembacalah menemukan
sendiri pesan atau amanat yang ingin disampaikan oleh peng-arang. Dengan
demikian, cerita yang kita baca akan memberikan makna bagi kita dan memperkaya
batin kita.
Nah! Anak-anak silakan bekerja dalam kelompok
mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan amanat dalam teks cerita “Mahjubah si
Pemalas”. Semua anak tampak bersemangat bekerja. Namun, pada saat presentasi
tugas kelompok, saya mengalami kesulitan, yaitu tidak satu pun kelompok
bersedia tampil memaparkan tugas yang sudah mereka selesaikan. Saya merasa mereka malu. Dengan gaya bahasa
tertentu, saya membujuk mereka. Setelah dibujuk-bujuk, kelompok I tampil
menempelkan hasil kerja kelompoknya di papan tulis dan memaparkannya atau lebih
tepat membacanya. Saya berharap akan ada tanggapan dari kelompok lain
(seba-gaimana skenario pembelajaran yang sudah saya rancang dua hari
sebelumnya). Harapan saya adalah harapan hampa. Tidak satu pun anak dari
kelompok lain bersedia berkomentar dan ini tidak bisa dibujuk. Akhirnya, sharing dalam bentuk diskusi tidak bisa
berlangsung hari itu.
Saya
melanjutkan pembelajaran dengan meminta semua kelompok menempelkan tugas
kelompoknya di papan tulis dan membacakannya. Setiap satu kelompok selesai
membacakan hasil kerja kelompoknya, penghargaan yang diberikan adalah tepuk
tangan dan saya merasa semua anak antusias bertepuk tangan. Selain itu, saya
juga merasa bahwa tidak semua anak dalam kelompok berpartisipasi penuh terhadap
pem-belajaran. Beberapa anak terlihat wajahnya tanpa ekspresi dan saya merasa
ada ‘ketidaknyamanan’ dalam batin saya. Saya menginginkan semua anak terlibat
penuh dalam konteks pembelajaran.
Hal lain
yang merupakan bagian dari ‘ketidaknyamanan’ saya adalah penggunaan papan tulis.
Saya merasa tulisan saya di papan tulis yang cenderung berbentuk denah lebih
tepat untuk konteks perkuliahan di perguruan tinggi daripada untuk anak SD.
Dari
segi penggunaan bahasa, saya juga merasakan bahwa saya harus sangat lebih banyak belajar bagaimana seharusnya
berbahasa dengan anak-anak. Berbahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Saya
sangat tidak berharap anak SD akan ‘dewasa’ sebelum saat-nya tiba. Mereka masih
anak-anak dan biarlah tetap anak-anak. Biarlah mereka menikmati dunianya, dunia
kanak-kanak dengan ragam bahasa kanak-kanaknya. Saya merasa bahasa saya
cende-rung tinggi untuk konteks pembelajaran di tingkat dasar.
Meskipun
saya merasa tujuan pembel-ajaran atau target pembelajaran pagi itu 90%
tercapai, masih ada ganjalan di benak saya ketika pembelajaran berakhir.
Ganjalan itu antara lain adalah (1) bagaimanakah seharusnya kita meng-ajar? (2)
Apakah semua anak menikmati pembel-ajaran ini? (3) Apakah bahasa sapaan saya
dalam bentuk “kamu”, “kalian” terhadap anak-anak akan membekas dalam jiwa
mereka sebagai bentuk sapaan yang kurang bersahabat? (4) Apa-kah pembelajaran
saya tentang cerita “Mahjubah si Pemalas” memberikan makna tersendiri bagi
anak-anak? Namun, saya mengakhiri pembelajaran hari itu dengan sebuah senyum,
sebuah sen-yum bahagia mendapat kesempatan bertemu anak-anak sekolah dasar
karena saya pun pernah menjadi anak-anak.
Di penghujung pembelajaran, sebagai
refleksi saya ajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimana anak-anak pembelajaran hari
ini dengan Bapak Guru yang baru?” Jawaban yang diberikan oleh seorang anak
kiranya sangatlah patut untuk kita renungkan bersama, yaitu “Kami senang Pak, karena Bapak tidak
marah-marah”. Sebuah jawaban yang cukup jujur tentunya.
Refleksi
Saya merasa teramat lega setelah mengung-kapkan secara
tertulis semua yang saya rasakan ketika saya melaksanakan pembelajaran di kelas
V SD. Ada sebuah tanya yang terus bergayut di dada, apakah semua anak yang ikut
pembelajaran saya memahami dengan baik semua yang seharusnya memang mereka
pahami hari itu? Kalaulah masih ada kesempatan, saya ingin melanjutkan lagi
pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh untuk
memastikan bahwa kehadiran saya di kelas mereka hari itu memberikan urunan yang
berarti dalam pembekalan pemahaman nilai-nilai positif dalam cerita.
Masih segar dalam ingatan saya wajah tiga orang anak yang
kurang ekspresif ketika pembelajaran berlangsung. Betapa andai bisa kembali,
saya ingin lebih ‘bersahabat’ dengan mereka. Mengapa ekspresi anak-anak itu
seperti kurang bergairah? Kita semua tentu berharap agar semua anak dapat
mengikuti pembelajaran tanpa beban di luar konteks pembelajaran. Mungkin dalam
hal ini saya terlalu emosional. Namun, inilah yang memang saya rasakan.
Pelajaran atau nilai yang dapat dipetik dari cerita
“Mahjubah si Pemalas” adalah pembentukan perilaku anak agar mereka tidak
melakukan atau mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh Mahjubah. Sebuah
kon-sep yang sederhana memang, tetapi memiliki makna yang dalam. Dengan kata
lain, dalam cerita Mahjubah banyak terkandung nilai pendidikan, nilai moral,
dan nilai agama yang cukup penting bagi anak-anak.
Refleksi anak-anak terhadap Mahjubah (hasil tugas PR)
juga cukup beragam. Secara umum anak-anak mengatakan bahwa mereka senang
membaca cerita Mahjubah. Mereka senang pada Mahjubah. Walaupun pada awal cerita
Mahjubah gadis yang malas, pada akhir cerita Mahjubah telah berubah. Namun,
terhadap pertanyaan Apa yang akan kamu
lakukan seandainya kamu menjadi Mahju-bah? Umumnya anak-anak menjawab
mereka tidak ingin seperti Mahjubah. Kalaupun harus menjadi Mahjubah, mereka
akan rajin membantu orang tua, rajin salat, dan pergi ke sekolah tepat pada
waktunya.
Refleksi yang ditulis oleh anak-anak terhadap Mahjubah
semakin melengkapi keber-maknaan
kehadiran saya di kelas mereka. Saya mengoleksi tulisan mereka. Bagi saya,
ungkapan anak-anak itu tentang Mahjubah adalah ung-kapan kejujuran nurani.
Akhirnya, saya men-yadari sepenuhnya bahwa untuk menjadi guru, terutama guru
Sekolah Dasar, diperlukan kompetensi yang memadai baik kompetensi akade-mik
maupun kompetensi pedagogik.
Komentar Pengamat I
Yusfaini, S. Pd.
Saya mengamati Pak Teuku mengajar
dari awal sampai akhir. beliau sudah berupaya semaksimal mungkin tampil di
depan siswa sebagaimana layaknya seorang guru Sekolah Dasar. Dari sisi
kehadirannya di depan kelas, saya tidak melihat ada kejanggalan yang terlalu
berarti. Namun, sebagai pengalaman pertama berdiri di depan siswa SD, tampaknya
beliau agak sedikit gugup pada awalnya. Mungkin beliau ‘agak terkejut’ mengapa
hari ini yang dihadapinya wajahnya jauh berbeda dengan wajah-wajah yang selama
ini akrab dalam pandangannya. Akan tetapi, Pak Teuku dapat mengatasi hal itu
dengan baik dan wajar.
Saya terus terang terkesan dengan
materi pembelajaran yang disiapkannya, yaitu cerita tentang seorang anak
perempuan yang pemalas. Anak perempuan itu Mahjubah
namanya. Cerita ini menarik karena dapat menjadi pelajaran bagi anak-anak,
khususnya anak Sekolah Dasar. Cerita itu sarat dengan pesan moral yang penting
bagi anak-anak. Patuh pada orang tua dan tidak membantah perintah orang tua
adalah salah satu contoh pesan moral dimaksud. Pak Teuku telah melaksanakan
pembelajaran mendidik anak dengan cerita. Konsep yang sederhana memang, tetapi
memiliki makna yang dalam bagi anak-anak.
Saya
berharap agar PR yang berupa refleksi yang ditulis oleh anak-anak dapat
dikoreksi, dikomentari, dan dikembalikan pada anak-anak. Ini cukup penting bagi
anak terutama untuk menunjukkan bahwa hasil pekerjaan mereka cukup mendapat
penghargaan. Implikasinya adalah anak-anak akan terus termotivasi untuk
menyelesaikan dengan baik setiap tugas yang diberikan. Hal ini tidak dilakukan
oleh Pak Teuku karena beberapa anak menanyakan kepada saya, “Bu tugas kami kok
belum dikembaliin.” Saya menjawab, “Sabar dulu, Bapak itu sedang mengoreksi
satu per satu. Kalau sudah siap dikoreksi pasti dikembalikan.”
Materi
cerita yang dipilih memang sesuai untuk siswa Sekolah Dasar. Ceritanya
sederhana, bahasanya mudah dipahami, alur ceritanya mudah diikuti, dan yang
tidak kalah pentingnya adalah cerita tersebut mengandung nilai-nilai yang
penting bagi perkembangan anak.
Dalam hal penggunaan papan tulis,
beliau menulis seperti kuliah untuk mahasiswa. Pak Teuku menulis point-pointnya
saja kemudian menjelaskan berdasarkan point-point itu. Para siswa tampaknya
memang dapat memahami penjelasan Pak Teuku dengan baik. Namun, saya merasa
belum tentu semua siswa sanggup mengikuti alur pikiran guru jika kita hanya
menulis point-pointnya saja untuk setiap pembelajaran berlangsung.
Ketika Pak Teuku meminta siswa
membacakan hasil kerja kelompoknya, terlihat para siswa malu-malu untuk tampil
di depan. Namun, saya melihat beliau juga tidak mudah putus asa. Pak Teuku
melakukan strategi lain, yaitu sedikit nada bujukan, pujian, suara diatur
selembut mungkin, tatapan bersahabat, dan hasilnya siswa berani tampil di depan
kelas.
Sisi lain yang saya amati adalah Pak
Teuku sering tangan di pinggang ketika mengajar. Gaya ini tentu saja kurang
tepat dalam pembelajaran di Sekolah Dasar karena selain tampak kurang
“familier” juga bisa membuat anak menjadi takut. Mungkin ini salah satu gaya
Pak Teuku mengajar di fakultas dengan mahasiswa. Mahasiswa dan siswa Sekolah
Dasar adalah dua sosok yang berbeda yang tentu saja membutuhkan perlakuan yang
berbeda pula.
Komentar Pengamat II: (Nina Aryani,
S. Pd.)
Saya seorang guru Sekolah Dasar jauh
sebelumnya tidak pernah membayangkan bahwa seorang dosen merasa kesulitan
mengajar di Sekolah Dasar. Memang mengajar di Sekolah Dasar tidaklah semudah
yang dibayangkan oleh sebagian orang. Untuk dapat menjadi guru atau pengajar di
Sekolah Dasar, kita harus memiliki pengetahuan yang memadai baik pengetahuan
yang berhubungan dengan konsep ilmu maupun pengetahuan ilmu mendidik, termasuk
ilmu psikologi di dalamnya. Selain itu, mengajar di Sekolah Dasar memerlukan
kiat-kiat tersendiri untuk ‘merangkul’ dan mengayomi siswa. Konon lagi jika
jumlah siswa per kelas mencapai 40 orang. Tentu ini merupakan kesulitan
tersendiri bagi guru terutama dalam belajar berkelompok. Susahnya dalam
pembentukan kelompok belajar. Jumlah siswa di SD Negeri 35 Kota Banda Aceh
kebetulan tidak terlalu banyak.
Sebenarnya jika saya mengamati Bapak
Drs. Teuku Alamsyah, M. Pd. mengajar di SD pertama tanggal 24 Januari 2008 dan
yang kedua 29 Januari 2008 sudah cukup bagus. Pak Teuku tampil di depan kelas
sangat familier dan akrab menyapa siswa. Namun, sekali-sekali sapaannya dengan
kata kamu, dan kalian.
Sapaan ini
tentu saja kurang tepat dan kurang lazim digunakan di Sekolah Dasar. Sapaan
yang lebih familier adalah anak-anak.
Dalam hal ini Pak Teuku merasa masih
ada yang mengganjal di hatinya karena masih ada siswa yang menurutnya kurang
ekspresif dalam pembelajaran. Selain itu, tugas yang diberikan kepada siswa
(PR) yang belum dikumpulkan tampaknya juga merupakan ‘beban’ tersendiri bagi
Pak Teuku. Memang, pada waktu beliau menyusun narasi yang saya komentari ini,
para siswa belum mengumpulkan PR. Alhamdulillah sekarang semua siswa menulis
kesan mereka tentang “Mahjubah” dan sudah mereka kumpulkan dua hari kemudian.
Saya berharap Pak Teuku sempat mengoreksi semua pekerjaan siswa dan
mengembalikannya kepada mereka sebagai umpan balik. Ini penting agar siswa
terus termotivasi karena hasil pekerjaaannya mendapat penghargaan yang layak.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Mata Pelajaran :
Bahasa Indonesia
Kelas/Semester :
V/2
Materi Ajar :
Cerita „Mahjubah si Pemalas“
Fokus Pembelajaran : Mendengarkan--Berbicara--Menulis
Alokasi Waktu : 2 x 30 Menit (1 x pertemuan)
I. Standar Kompetensi : Memahami cerita tentang suatu peristiwa dan
cerita
pendek anak yang disampaikan secara
lisan
II. Kompetensi Dasar : Mengidentifikasi unsur cerita (tokoh, tema,
latar,
dan amanat).
III. Indikator
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat:
1) menyebutkan tokoh utama dan tokoh
pembantu dalam cerita yang didengar,
2) menuliskan tema, latar, dan
amanat cerita,) menuliskan hal yang akan
Dilakukan seandainya siswa sendiri sebagai
tokoh utama cerita.
IV. Konsep yang harus
dikuasai siswa
·
Konsep
tokoh utama dan tokoh pembantu dalam cerita.
·
Konsep
tema, latar, dan amanat cerita.
V. Aspek yang Diintegrasikan dalam Pembelajaran
(whole language)
·
mendengarkan—berbicara—menulis
—> dengan media cerita
VI. Pendekatan/Metode Pembelajaran:
Pendekatan : PAKEM
Metode : Kerja Kelompok
Diskusi
Penugasan
VII. Materi Pembelajaran
Mahjubah si Pemalas
Tersebutlah seorang anak perempuan bernama Mahjubah. Mahjubah anak yang
malas. Ibunya sangat kesal kepadanya. Begitu juga saudara-saudaranya karena ia
malas bekerja dan tidak pernah mau membantu ibunya di rumah. Setiap hari ia
tampak mengantuk.
“Kerjakanlah ini sebentar, Mahjubah!” kata ibunya.
“Aku tidak bisa, aku tidak tahu... sulit..“
Mahjubah memberi alasan. Kemudian ibunya menasehatinya agar Mahjubah jangan
selalu malas. Nanti kalau besar mau jadi apa. Begitu selalu nasehat ibunya.
Namun, Mahjubah tetap saja malas. Malas sepanjang hari. Kerjanya hanya
bermain-main.
Mahjubah
selalu tidur pada waktu magrib dan bangun siang hari menjelang matahari terbit.
Oleh karena itu, ia selalu terlambat berangkat ke sekolah. Ibu guru juga selalu
mengingatkan Mahjubah agar jangan terlalu sering terlambat tanpa alasan yang
jelas. Akan tetapi nasehat ibu guru hanya angin lalu bagi Mahjubah. Hari ini
diingatkan, besok dia sudah lupa lagi. Yang penting baginya adalah tidur.
Suatu
hari Mahjubah tidur habis magrib dan bangun menjelang siang, sekitar pukul
10.00. Ia pun terlambat lagi ke sekolah. Besoknya, habis maghrib Mahjubah tidur
lagi dan menjelang pukul 10.00 ia belum terbangun dan ibunya sudah beberapa
kali membangunkannya, tetapi Mahjubah tetap berleha-leha dengan tidurnya.
Akhirnya, hari itu Mahjubah tidak jadi berangkat ke sekolah karena ketika ia
berpakaian, teman-temannya sudah pulang sekolah.
Besoknya, hal yang sama terulang
lagi. Hari sudah pukul 7.00. Mahjubah masih tertidur pulas. Ibunya datang
membangunkannya. Mahjubah hanya menggeliat sebentar dan kemudian tidur lagi.
Pukul 7.30 ibunya datang lagi membangunkannya. Mahjubah bangun dan langsung ke
kamar mandi untuk mandi. Sesampai di kamar mandi, rasa malasnya timbul lagi.
Mahjubah malas mandi. Ia kembali ke tempat tidur dan tidur dengan nyenyaknya.
Ketika Mahjubah tidur, tiba-tiba ranjang tempat tidur Mahjubah bergerak ke luar
rumah dengan Mahjubah tersebutnya. Ranjang itu berjalan sepanjang jalan menuju
ke sekolah Mahjubah. Sepanjang jalan orang-orang melihat Mahjubah dibawa oleh
ranjangnya dan mereka menunjuk-nunjuk sambil tertawa. Mahjubah hanya bisa
tersenyum malu. Ranjang itu pun sampai di ruang kelas Mahjubah. Ranjang
mengetuk pintu sambil berkata, “Assalamu’alaikum!” Ibu Guru dan anak-anak
menjawab, “Wa’alaikum salam!” “Silakan masuk”, kata Bu Guru sambil membukakan
pintu. Ranjang itu pun masuk kelas dengan Mahjubah tersebutnya. Ranjang berkata
lagi, “Bu Guru dan anak-anak, saya datang mengantarkan Mahjubah karena ia
selalu terlambat bangun.” “Di manakah tempat duduk Mahjubah?” Anak-anak
menunjukkan tempat duduk Mahjubah. Ranjang menurunkan Mahjubah ke tempat
duduknya di kelas itu dan ia pun pergi meninggalkan sekolah Mahjubah.
Tinggallah Mahjubah di kelas itu dengan
pakaian tidurnya. Semua temannya berseragam. Mahjubah merasa aneh sendiri. Hari
itu, Mahjubah bersekolah dengan pakaian tidur. Mahjubah malu dan menyesal.
Semua temannya menyorakinya. Namun, Ibu Guru tidak marah. Ibu Guru mengizinkan
Mahjubah bersekolah dengan pakaian tidur untuk hari itu.
Sejak ranjangnya mengantarnya ke
sekolah, Mahjubah kini mulai berubah. Ia tidak malas lagi. Ia mulai rajin
membantu ibunya di rumah. Mahjubah rajin menyapu dan membantu mencuci piring.
Mahjubah rajin pula mengerjakan PR. Ia tidak lagi bangun kesiangan sehingga
sampai di sekolah tidak terlambat lagi. Teman-temannya pun suka pada Mahjubah
yang telah banyak berubah. Mahjubah telah menjadi anak yang baik, rajin, dan
penurut.
(Sumber: Mendidik dengan Cerita)
(Judul Asli: Al Qissah fi
al-Tarbiyah)
(Pengarang:
Abdul Aziz Abdul Majid)
VIII. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
Mengadakan tanya jawab seputar cerita yang pernah
didengar oleh anak.
Membentuk kelompok
- Setiap siswa diminta memilih salah satu potongan kertas yang bertuliskan huruf abjad.
- Setelah semua siswa mendapat potongan-potongan kertas, mereka diminta mencari teman yang mendapatkan abjad yang sama dan duduk satu kelompok.
2. Kegiatan Inti
- Mendengarkan pembacaan cerita Mahjubah si Pemalas
- Mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan amanat cerita
- Menuliskan nama tokoh, tema, latar, dan amanat cerita
- Presentasi
- Sharing dan diskusi
3. Kegiatan Penutup
- Pemberian penguatan
- Penyimpulan isi pembelajaran
- Penentuan batas-batas tugas
IX. Evaluasi
1) Evaluasi Proses
(Evaluasi ini dilaksanakan selama
berlangsungnya proses pembelajaran,
mulai dari kegiatan awal,
kegiatan inti, dan kegiatan akhir pembe-
lajaran)
Beberapa contoh pertanyaan dalam evaluasi proses:
1. “Anak-anak! Pernahkah kamu mendengarkan cerita?”
2. “Siapa yang tidak pernah
mendengarkan cerita?”
3. “Apa yang paling berkesan dari
cerita Mahjubah?”
4. “Apa kesanmu terhadap
Mahjubah?”
2) Evaluasi Hasil
(Evaluasi dilakukan dengan memberikan
tugas terstruktur yang
dikerjakan siswa sebagai PR)
Setelah mendengarkan dan membaca cerita “Mahjubah si
Pemalas”, kerjakanlah tugas berikut.
1)
Tulislah
kesanmu terhadap Mahjubah!
2)
Apakah
yang akan kamu lakukan seandainya kamu menjadi Mahjubah?
|
DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, Teuku. 2008. (Ed.) Modul Pengajaran Mikro Berbasis Case
study. Hasil kerja sama ERA—AusAID dengan FKIP Unsyiah, Fatar IAIN
Ar-Raniry, dan FKIP Universitas Al-Muslim (digunakan terbatas untuk kalangan
sendiri).
Majid A, . Abdul Azis. 2002. Mendidik dengan Cerita. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Ngermanto, Agus. 2005. Quantum Quotient. Bandung: Yayasan Nuansa
Cendekia.
Lie, Anita. 2004. Cooperative
Learning. Jakarta: Grasindo.
Terima kasih sudah berkunjung.
Terima kasih sudah berkunjung....Jika ada yang belum jelas, Silahkan hubungi saya di alamat E-mail : wiratrick@gmail.com



0 komentar:
Post a Comment